AKAN SELALU ADA JALAN BAGI YANG MAU BERBUAT

Safaruddinufe1121@gmail.com

TRANSLATE



JapaneseGermanEnglishFrenchSpainChinese SimplifiedArabicRussian

Translate

visitor

Jumat, 01 November 2013

MEDIA TIGA DIMENSI

BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar belakang
Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media pembelajaran yang memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut EACT yang dikutip oleh Rohani (1997 : 2) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi”. Sedangkan pengertian media menurut Djamarah (1995 : 136) adalah “media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.
Selanjutnya ditegaskan oleh Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu : “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”.
B.                 Rumusan  Masalah
1.      Pengertian Media Tiga Dimensi
2.      Kelebihan-kelebihan media tiga dimensi
3.      Media pembelajaran tiga dimensi yang terdiri atas media benda sebenarnya, media benda tiruan dan perangkat media tiga dimensi yang lainnya.













BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian media tiga dimensi
Media tiga dimensi ialah sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensional. Kelompok media ini dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup maupun mati, dan dapat pula berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya. Benda asli ketika akan difungsikan sebagai media pembelajaran dapat dibawa langsung ke kelas, atau siswa sekelas dikerahkan langsung ke dunia sesungguhnya di mana benda asli itu  berada. Apabila benda aslinya sulit untuk dibawa ke kelas atau kelas tidak mungkin dihadapkan langsung ke tempat di mana benda itu berada, maka benda tiruannya dapat pula berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif.
Media tiga dimensi yang dapat diproduksi dengan mudah adalah tergolong sederhana dalam penggunaan dan pemanfaatannya, karena tanpa harus memerlukan keahlian khusus, dapat dibuat sendiri oleh guru, bahannya mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Kelebihan-kelebihan media tiga dimensi
Moedjiono (1992) mengatakan bahwa media sederhana tiga dimensi memiliki kelebihan-kelebihan: memberikan pengalaman secara langsung, penyajian secara kongkrit dan menghindari verbalisme, dapat menunjukkan obyek secara utuh baik konstruksi maupun cara kerjanya, dapat memperlihatkan struktur organisasi secara jelas, dapat menunjukkan alur suatu proses secara jelas. Sedangkan kelemahan-kelemahannya adalah: tidak bisa menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar, penyimpanannya memerlukan ruang yang besar dan perawatannya rumit.
Belajar benda sebenarnya melalui widya wisata. Widya wisata adalah kegiatan belajar yang dilaksanakan melalui kunjungan ke suatu tempat di luar kelas sebagai bagian integral dari seluruh kegiatan akademis dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.
Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dengan belajar melalui widya wisata adalah: siswa memperoleh pengalaman langsung sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna, membangkitkan minat siswa untuk menyelidiki, melatih seni hidup bersama dan tanggung jawab bersama, menciptakan kepribadian yang komplit bagi guru dan siswa, mengintegrasikan pengajaran di kelas dengan kehidupan dunia nyata. Sedangkan kelemahan-kelemahannya adalah: sulit dalam pengaturan waktu, memerlukan biaya dan tanggung jawab ekstra, obyek wisata yang jarang memberikan peluang yang tepat dengan tujuan belajar.
Belajar benda sebenarnya melalui specimen. Terminologi benda sebenarnya digolongkan atas dua, yaitu obyek dan benda contoh (specimen). Obyek adalah semua benda yang masih dalam keadaan asli dan alami. Sedangkan specimen adalah benda-benda asli atau sebagian benda asli yang digunakan sebagai contoh. Namun ada juga benda asli tidak alami atau benda asli buatan, yaitu jenis benda asli yang telah dimodifikasi bentuknya oleh manusia. Contoh-contoh specimen benda yang masih hidup adalah: akuarium, terrarium, kebun binatang, kebun percobaan, dan insektarium. Contoh-contoh specimen benda yang sudah mati adalah: herbarium, teksidermi, awetan dalam botol, awetan dalam cairan plastik. Contoh-contoh specimen benda yang tak hidup adalah: berbagai benda yang berasal dari batuan dan mineral. Sekarang belajar melalui benda sebenarnya jarang dilakukan. Ada beberapa alasan orang tidak mempelajari benda sebenarnya, yaitu: bendanya sudah tidak ada lagi, kalaupun ada sangat sulit untuk dijangkau, terlelalu besar atau terlalu kecil, sangat berbahaya untuk dipelajari langsung, tidak boleh dilihat, terlalu cepat atau terlalu lambat gerakannya.
Belajar melalui Media Tiruan. Media tiruan sering disebut sebagai model. Belajar melalui model dilakukan untuk pokok bahasan tertentu yang tidak mungkin dapat dilakukan melalui pengalaman langsung atau melalui benda sebenarnya. Ada beberapa tujuan belajar dengan menggunakan model, yaitu: mengatasi kesulitan yang muncul ketika mempelajari obyek yang terlalu besar, untuk mempelajari obyek yang telah menyejarah di masa lampau, untuk mempelajari obyek-obyek yang tak terjangkau secara fisik, untuk mempelajari obyek yang mudak dijangkau tetapi tidak memberikan keterangan yang memadai (misalnya mata manusia, telinga manusia), untuk mempelajari konstruksi-konstruksi yang abstrak, untuk memperliatkan proses dari obyek yang luas (misalnya proses peredaran planit-planit). Keuntungan-keuntungan menggunakan model adalah: belajar dapat difokuskan pada bagian yang penting-penting saja, dapat mempertunjukkan struktur dalam suatu obyek, siswa memperoleh pengalaman yang konkrit. Ditinjau dari cara membuat, bentuk dan tujuan penggunaan model dapat dibedakan atas: model perbandingan (misalnya globe), model yang disederhanakan, model irisan, model susunan, model terbuka,  model utuh, boneka, dan topeng.
Peta Timbul. Peta timbul yang secara fisik termasuk model lapangan, adalah peta yang dapat menunjukkan tinggi rendahnya permukaan bumi. Peta timbul memiliki ukuran panjang, lebar, dan dalam. Dengan melihat peta timbul, siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang perbedaan letak, tepi pantai, dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, gunung berapi, lembah, danau, sungai. Peta timbul dapat dibuat oleh guru bersama siswa sehingga dapat memupuk daya kreasi, daya imajinasi, dan memupuk rasa tanggung jawab bersama terhadap hasil karya bersama. Bahan yang dapat dipakai membuat peta tilmul adalah semen, tanah liat, serbuk gergaji, bubur kertas karton. Pemilihan bahan disesuaikan dengan keperluan peta timbul yang ingin dibuat.
Globe. Globe (model perbandingan) adalah benda tiruan dari bentuk bumi yang diperkecil. Globe dapat memberikan keterangan tentang permukaan bumi pada umumnya dan khususnya tentang lingkungan bumi, aliran sungai, dan langit. Tujuan penggunaan globe adalah: menunjukkan bentuk bumi yang sebenarnya dalam skala kecil, menunjukkan jarak pada suatu titik tertentu, menunjukkan skala-skala tentang jarak pada lingkungan yang luas. Ukuran gloge yang paling umum adalah 8, 12, 16, 20, 24 inci. Globe untuk perseorangan cukup berukuran 8 inci, sedangkan untuk kelas adalah 12 atau 16 inci.
Boneka. Boneka yang merupakan salah satu model perbandingan adalah benda tiruan dari bentuk manusia dan atau binatang. Sebagai media pendidikan, dalam penggunaannya boneka dimainkan dalam bentuk sandiwara boneka. Penggunaan boneka dalam pendidikan telah populer sejak tahun 1940-an di Amerika. Di Indonesia, penggunaan boneka sudah lumrah, misalnya wayang golek (di Jawa Barat) digunakan untuk memainkan ceritera Mahabarata dan Ramayana. Macam-macam boneka dibedakan atas: boneka jari (dimainkan dengan jari tangan), boneka tangan (satu tangan memainkan satu boneka), boneka tongkat seperti wayang-wayangan, boneka tali sering disebut marionet (cara menggerakkan melalui tali yang menghubungkan kepala, tangan, dan kaki), boneka bayang-bayang (shadow puppet) dimainkan dengan cara mempertontonkan gerak bayang-bayangnya. Keuntungan menggunakan boneka adalah: efisien terhadap waktu, tempat, biaya, dan persiapan; tidak memerlukan keterampilan yang rumit; dapat mengembangkan imajinasi dan aktivitas anak dalam suasana gembira. Agar penggunaannya menjadi efektif, maka harus memperhatikan hal-hal: merumuskan tujuan pengajaran secara jelas, didahului dengan pembuatan naskahnya, lebih banyak mementingkan gerak ketimbang verbal, dimainkan sekitar 10-15 menit, diselingi dengan nyanyian, ceritera disesuaikan dengan umur anak, diikuti dengan tanya jawab, siswa diberi peluang memainkannya
Media Pembelajaran pembelajaran tiga dimensi
Tiga Dimensi Pada bagian ini dibahas media pembelajaran tiga dimensi yang terdiri atas media benda sebenarnya, media benda tiruan dan perangkat media tiga dimensi yang lainnya.
Pengertian Benda Asli
Salah satu bentuk media pembelajaran yang termasuk dalam kategori tiga dimensi adalah benda-benda asli, atau wujud kenyataan kondisi yang sebenarnya. Dari segi efektivitas pengajaran, penggunaan benda sebenarnya sebagai media pembelajaran dapat memberikan urunan yang cukup berarti, terutama dari pemerolehan pengalaman yang bersifat langsung dan kongkrit. Karena segala peristiwa yang terungkap di dalam jalinan interaksi dengan media sebenarnya tersebut, cukuplah untuk mendapatkan peng-alaman langsung, lengkap dan kesan yang mendalam dari apa yang dipelajari, tepatlah apabila kita belajar melalui benda-benda atau keadaan yang sebenarnya. Ada yang menyebut media ini sebagai alat peraga langsung.
Pengertian yang termasuk dalam kategori media pembelajaran yang sebenarnya, baik benda yang hidup seperti manusia, tumbuhan, dan hewan, di samping benda mati dan benda tak hidup (anorganik). Ada dua cara yang ditempuh untuk belajar melalui benda sebenarnya, yaitu membawa kelas ke dunia luar atau membawa dunia ke dalam kelas. Untuk membawa kelas ke dunia luar caranya dapat melalui Widyawisata/Karyawisata, yaitu perjalanan ke luar kelas atau sekolah (wisata) untuk tujuan belajar (widya). Sedangkan untuk dapat membawa dunia (luar) ke dalam kelas adalah dengan cara menggunakan specimen atau barang contoh, yaitu benda-benda aseli baik dalam keadaan hidup dan utuh, maupun dalam keadaam mati ataupun sebagian dari benda aseli itu untuk diperagakan atau dipelajari di kelas atau di dalam ruang laboratorium khusus untuk pelajaran tertentu.
Belajar Benda Asli melalui Widyawisata
Widyawisata adalah kegiatan belajar yang dilaksanakan melalui suatu kunjungan ke suatu tempat atu obyek di luar kelas sebagai bagian integral dari seluruh kegiatan akademis/ belajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran (instruksional) tertentu. Widya artinya belajar dan wisata artinya kunjungan atau perjalanan.
Keuntungan Widyawisata
Beberapa keuntungan yang diperoleh melalui widya-wisata, antara lain:
Pengalaman langsung
Pengalaman langsung dengan benda sebenarnya akan memberikan kesan yang lebih kuat, dengan demikian membuat hasil belajar yang lebih menetap. Dengan demikian siswa akan bertambah wawasan serta pengalamannya.
Membangkitkan minat untuk menyelidiki dan menemukan sesuatu yang baru
Dengan belajar dengan objek langsung di tempat benda itu berada siswa akan lebih lengkap pengalaman yang diperolehnya.
Melatih seni hidup bersama, menjalankan tugas dan tanggungjawab bersama
Dengan dibentuknya panitia study tour siswa diberi tugas dan tanggung jawab masing sesuai dengan bidang ugas dan tanggung jawabnya. Di situlah mereka belajar seni hidup yang nyata dan salling tolong menolong satu sama lain.
Menciptakan kepribadian yang komplit bagi guru maupun siswa.
Banyak pengalaman yang hanya dapat diperoleh melalui kegiatan ini. Misalnya bagaimana mengatasi hambatan transportasi, bagaimana mengatasi hambatan bahasa (misalnya lokasi wisata hanya menggunakan bahasa lokal saja), bagaimana mengatasi keadaan darurat (misalnya ada peserta yang sakit mendadak) dan sebagainya.
Mengintegrasikan antara pengajaran di kelas dengan kehidupan nyata di masyarakat
Karyawisata mampu mengintegrasikan pengalaman siswa atau peserta didik. Pengalaman yang dimiliki siswa perlu disesuaikan dengan pengalaman yang ada, agar peserta didik memiliki pemahaman yang luas terhadap dunia sekitarnya. Pengalaman yang diperoleh selama melakukan karyawisata merupakan pengalaman langsung dari kehidupan di luar diri anak atau masyarakat sekitar yang dekat dengan siswa.
Kelemahan-kelemahan
Di samping ada keuntungan yang kita dapatkan dari kegiatan karyawisata, ada juga kelemahan-kelemahan yang kita dapatkan. Beberapa kelemahan Widyawisata, yaitu sebagai berikut ini.
Masalah waktu
Apabila tidak dirancang secara baik, disamping mengganggu siswa dan kegiatan rutinnya juga akan memboroskan waktu saja.
Memerlukan biaya
Memerlukan biaya, tenaga dan tanggungjawab ekstra. Disamping biaya yang dikeluarkan di luar biaya rutinsekolah, tenaga untuk perjalanan juga memerlukan pengelolaan yang penuh tanggungjawab baik dari siswa maupun guru. Karena bagaimanapun perjalanan sekolah semacam ini mengandung banyak resiko.
Obyek wisata yang kurang memenuhi syarat
Sering terjadi tujuan widya wisata tidak dapat tercapai disebabkan obyek yang tidak memenuhi syarat untuk bahan belajar. Misalnya obyek yang terlalu rumit, terlalu kecil, terlalu besar, berbahaya dan sebagainya.
Langkah-langkah Widyawisata
Secara umum widya wisata dapat melalui tahap-tahap: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi/follow-up. Namun tahapan itu dapat dirinci sebagai berikut:
1. Menetapkan tujuan yang jelas, yaitu apa yang akan dicapai melalui kegiatan widyawisata tersebut.
2. Jika kegiatan tersebut melalui instansi-instansi tertentu, persiapkan lebih dulu prosedur perijinan yang harus dipenuhi. Pilihlah kurir yang cekatan, sehingga mereka dapat menyelidiki dulu kondisi dari obyek yang akan dikunjungi. Mintalah persetujuan dan kerja sama dari/dengan orang tua.
3. Persiapkan dengan teliti apa saja yang perlu dibawa untuk kelengkapan dan keamanan pada waktu mengadakan perjalanan dan waktu berada ditempat wisata.
4. Jelaskan pada siswa tugas-tugas apa saja yang harus dikerjakan dan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang nanti jawabannya akan ditemukan ditempat wisata.
5. Dalam perjalanan tata tertib harus dijaga dan utamakan keselamatan, sehingga bisatiba ditempat tujuan dengan selamat dan tepat pada waktu yang direncanakan.
6. Setelah tiba di tempat yang dituju ingatkan sekali lagi tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh murid selama ditempat tersebut.
7. Setelah pulang dengan selamat, lanjutkan dengan kegiatan lanjutan yang berupa:
a. Pelaporan secara umum proses dan hasil kegiatan perjalanan tersebut.
b. Diskusikan hasil-hasil yang diperoleh selama widya wisata.
c. Adakan kegiatan evaluasi terhadap hasil widya wisata tersebut. Untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya tercapai.
d. Rumuskanlah saran-saran untuk kegiatan yang serupa untuk kegiatan yang akan datang.
e. Simpan dengan baik semua dokumentasi yang diperoleh agar dapat digunakan sewaktu-waktu.
f. Buat laporan lengkap seluruh kegiatan widyawisata dan seluruh hasil yang diperoleh selama widya wisata tersebut dalam satu file yang dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu.
Belajar Benda Sebenarnya melalui Speciment
Ada dua istilah untuk menggolongkan benda sebenarnya (real things), yaitu obyek (object) dan benda atau barang contoh (specimen). Benda asli disebut obyek dimaksudkan untuk semua benda yang masih asli, alami seperti dimana ia hidup dan berada.Untuk mempelajari obyek, kita dapat menyelenggarakan widya wisata, sehingga bertemu dengan benda-benda asli dimana ia seharusnya berada. Sedangkan specimen atau bendaatau barang contoh dimaksudkan untuk benda-benda asli atau sebagian dari benda-benda asli yang digunakan sebagai contoh. Jadi specimen pun juga benda asli yang mewakili benda aslinya yang sebenarnya berjumlah sangat banyak atau benda aslinya berukuran sangat besar atau luas atau utuh, sedangkan specimen sebagi-an kecil dari padanya atau ia hanya mewakili jenisnya saja.
Ada pula cara mengklasifikasikan benda asli menjadi benda asli alam (natural thing) dan benda asli buatan manusia. Jadi benda asli buatan adalah jenis benda asli yang sudah diubah bentuk dan sifatnya oleh tangan manusia yang mungkin dijadikan bahan (makanan, minuman dan sebagainya), alat, perlengkapan, perhiasan, permainan, dan sebagainya.
Specimen benda yang masih hidup
a) Akuarium: Sebuah tempat atau wadah (biasanya terbuat
dari bahan kaca) yang berisi air yang digunakan untuk
memelihara binatang atau tumbuh-tumbuhan air.
b) Terrarium: Kota tempat untuk memelihara hewan darat ( jenis hewan yang melata) dan tumbuhan darat (tentu saja yang berukuran cukup kecil).
c) Kebun binatang: Dengan segala jenis binatang darat, laut, maupun berbagai jenis burung yang dimaksudkan sebagai contoh/sampel juga. Pengelola kebun binatang ini berusaha membuat kondisi hidup binatang yang dipeliharanya sesuai dengan atau setidak-tidaknya mirip dengan habitat aslinya.
d) Kebun percobaan atau kebun percontohan dengan berbagai tumbuhan budidaya maupun tumbuhan lain.
e) Insektarium: Berupa kotak atau tempat memelihara jenis-jenis serangga atau tempat memajang berbagai jenis serangga yang sudah mati atau diawetkan.
Specimen benda yang sudah mati
1. Herbarium: Bagian dari tumbuhan yang sudah dikeringkan.
2. Taksidermi: Yaitu kulit hewan yang dibentuk kembali setelah kulit tersebut dikeringkan dan isi tubuhnya diisi dengan benda lain, misalnya kapuk.
3. Awetan dalam botol, yaitu mahluk yang sudah mati diawetkan dalam botol yang berisi larutan formalin 4%, alkohol 70 – 90%.
4. Awetan dalam cairan plastik atau bioplastik yaitu mahluk yang sudah mati disimpan dalam cairan plastik yang semula cair kemudian membeku.
Specimen dari benda tak hidup
Specimen dari benda tak hidup, yaitu contoh-contoh dari berbagai benda tak hidup seperti batuan dan mineral. Adapun untuk mempelajari specimen inipun ada banyak cara sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai dan sifat-sifat benda tersebut. Mungkin kita belajar dengan melihat dengan teliti, mengklasifikasikan, menganalisis, menggunakan, men-diskusikan, mengadakan percobaan, dan sebagainya. Disamping sejumlah keuntungan dari belajar melalui benda sebenarnya ada juga kelemahannya.
Ada beberapa alasan yang membuat orang tidak mempelajari benda sebenarnya, antara lain disebabkan:
Benda itu sudah tidak ada lagi sekarang
Benda-benda purba yang hidup pada jutaan tahun yang lalu dan sekarang ini tinggal fosilnya saja tentu tidak mungkin untuk menemukan binatang ataupun tumbuhan purba tersebut dalam keadaan hidup. Untuk itu maka kita dapat membuat replikasinya atau tiruannya berdasarkan fosil-fosil yang sempat ditemukan.
Benda itu terlalu jauh dan tak terjangkau oleh kita
Baik benda-benda langit yang memang sangat jauh jaraknya dari kita maupun benda-benda di bumi sekalipun namun terlalu jauh untuk kita jangkau ataupun jika kita ingin mempelajarinya secara langsung memerlukan waktu perjalanan berhari-hari ataupun bahkan berminggu-minggu. Untuk menghemat waktu baik bagi guru maupun siswa lebih baik kita siapkan atau buat tiruannya dalam bentuk yang diperkecil. Dengan demikian akan membantu memberikan kejelasan kepada siswa yang mempelajarinya.
Benda itu terlalu besar atau terlalu kecil
Susunan tata surya kita tidak mungkin akan dapat terlihat struktur dan posisinya masing-masing di ruang angkasa kita tanpa kita buta tiruannya. Selain ukurannya yang sangat besar untuk dapat diamatinya secara langsung jangkauan pengamatan manusia juga sangat terbatas. Untuk itu perlu dibuat tiruannya dalam bentuk model perbanding-an yang diperkecil. Sebaliknya untuk benda-benda atau obyek yang sangat kecil ukurannya yang hanya dapat terlihat dengan jelas dengan bantuan mikroskop dapat pula kita buat tiruanhya dalam bentuk model perbandingan yang diperbesar.
Benda itu sangat berbahaya untuk dipelajari langsung. Misalnya binatang ataupun tumbuhan yang berbisa atau beracun jika disentuh. Contohnya di Amerika Selatan ada jenis katak yang pada seluruh kulit tubuhnya mengandung racun yang mematikan manusia yang hanya dengan menyentuhnya saja.
Jenis serangga tertentu yang gigitannya mengandung racun mematikan, ular berbisa, berbagai jenis binatang penyengat. Untuk mempelajarinya secara langsung dan dalam keadaan hidup tentu sangat berbahaya dan mengandung resiko. Oleh sebab itu kita bisa membuat tiruannya dalam bentuk model yang bentuk dan ukurannya dibuat sangat mirip dengan benda atau obyek aslinya (model utuh).
Benda itu tak boleh dilihatnya
Mengapa benda itu tak boleh dilihat? Bukannya tidak dapat dilihat, tetapi karena alasan etika benda tersebut tidak boleh dilihat. Misalnya bagian dari organ tubuh manusia yang jika dipertontonkan tentu melanggar etika, kecuali untuk kepentingan ilmiah atau pengobatan yang tentu saja atas ijin atau profesinya.
Benda itu terlalu cepat atau terlalu lambat geraknya
Untuk mempelajari benda-benda atau obyek-obyek yang sangat besar ukuranya dan untuk melihat bagaimana gerak benda tersebut, misalnya palnit tata surya kita, kita tidak dapat melihat hal itu secara langsung. Di samping akan nampak lambat gerakannya (walaupun sebenarnya gerakan yang sesungguhnya sangat cepat), kemampuan mata kita juga sangat terbatas.
Bab 8
Media Benda Tak asli atau Tiruan
Media tiruan atau Model adalah merupakan tiruan dari benda yang berbentuk tiga dimensi yang dibuat sedemikian rupa sehingga serupa dalam bentuk dan tidak sama dalam hal-hal yang lainnya. Meskipun semua orang tahu, bahwa belajar melalui pengalaman lang-sung atau melalui benda sebenarnya mempunyai sejumlah keuntungan, perlu diketahui juga bahwa sejumlah besar keterbatasan akan teratasi dengan penggunaan model.
Penggunaan model dimaksudkan untuk mengatasi beberapa masalah belajar, antara lain yaitu:
Ukuran
Kesulitan mempelajari obyek-obyek yang terlalu besar atau luas, sehingga tak dapat diamati secara menyeluruh dan sebaliknya obyek-obyek yang terlalu kecil, sehingga tak dapat diamati dengan mata dengan baik dapat diatasi dengan menggunakan model. Untuk obyek yang terlalu besar dan luas dibuat model sederhana yang diperkecil dan untuk obyek yang terlalu kecil digunakan model perbandingan yang diperbesar.
Waktu
Maksudnya dengan menggunakan model kita dapat mengganti kenyataan terhadap waktu lampau yang tak dapat kita jangkau dan dengan model kita dapat memproyeksi ide terhadap hal yang akan datang yang tidak dikenalnya secara kongkrit. Misalnya obyek-obyek tempat bersejarah dapat digambarkan dalam bentuk model dan dengan model pula kita dapat menciptakan bentuk bangunan yang kita kehendaki dan akan diwujudkan dalam bentuk bangunan yang sebenarnya.
Tak terjangkau secara fisik
Maksudnya obyek-obyek yang terlalu jauh dan terlalu banyak memakan waktu dan biaya yang diperlukan dapat diganti dengan menggunakan model-model dari obyek tersebut. Misalnya model rumah orang Eskimo, orang Indian dan sebagainya. Demikian pula obyek yang terlalu jauh dari kita, misalnya planet-planet yang ada dalam tata surya kita.
Kenyataan-kenyataan yang “tidak berguna”
Banyak obyek atau benda sebenarnya yang dengan mudah kita jangkau, tetapi tidak memberi keterangan yang memadai. Misalnya: Kerja dari mata manusia, struktur bagian dalam telinga manusia, kita membuat model yang diperbesar yang dapat memperlihatkan bagian dalam dari benda tersebut. Tentu dengan model irisan/terbuka dari obyek tersebut.
Proses
Maksudnya dengan model-model kita dapat memperlihatkan proses kerja dari obyek-obyek yang besar dan luas. Misalnya proses peredaran planet-planet atau proses terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan dan sebagainya.
Keuntungan Benda Model
Beberapa keuntungan penggunaan model sebagai media pendidikan antara lain adalah:
Model berbentuk tiga dimensi
Walaupun bukan benda sebenarnya, ia merupakan wakil yang terbaik bagi benda sebenarnya.
1. Dengan adanya perubahan ukuran, model lebih mudah dipelajari. Misalnya model yang diperkecil dan model yang diperbesar.
2. Karena bagian-bagian yang tidak penting dihilangkan, orang tinggal mempelajari bagian-bagian yang penting saja. Misalnya melalui model yang disederhanakan.
3. Dapat mempertunjukkan struktur bagian dalam suatu benda. Melalui model irisan orang dapat melihat bagian dalam suatu benda yang tidak mungkin melihat dalam keadaan aslinya.
4. Kekongkritan yang tak langsung.
Melalui model siswa mendapatkan pengalaman yang kongkrit walaupun tidak mela- lui benda yang sebenarnya.
Ditinjau dari cara membuat, bentuk dan tujuan peng-gunaannya model dapat dibeda- kan antara lain model perbandingan (scale model), model yang disederhanakan (simplifi-cation model), model irisan (cutaway and cross section model), model lapangan (macquette), model susunan, model terbuka, model utuh (duplikat tiruan) boneka dan topeng dan bak pasir.
Macam-macam Benda Model
Model Perbandingan
Model ini dibuat terutama untuk menerangkan sesuatu obyek atau benda yang karena besarnya sukar dibawa masuk kelas atau karena kecilnya sukardiamati dengan baik. Untuk membuat model ini ketelitian perbandingan antara benda asli dengan model yang akan dibuat hendaknya diperhatikan, agar murid tidak mendapatkan pengertian yang keliru dari benda yang sebenarnya.
Membuat model perbandingan memang tidaklah mudah. Misalnya kita membuat model perbandingan untuk planet atau benda-benda ruang angkasa.Untuk perbandingan antara bumi, bulan dengan planet Yupiter misalnya, kita sering kali tidak membuat per-bandingan yang sebenarnya. Misalnya besar bumi sepuluh kali bulan, tetapi kita buat model dengan perbandingan satu berbanding empat. Sebaliknya dari benda-benda yang kecil ukurannya kita lebih mudah untuk membuat model tiruannya secara tepat. Globe misalnya adalah salah satu model perbandingan. Tetapi dalam bahasan ini, globe akan dibahas dalam paragraf tersendiri karena pembuatannya memerlukan persyaratan-persyaratan khusus yang perlu diperhatikan.
Model yang Disederhanakan
Model ini dibuat dengan cara menyederhanakan bentuk benda yang sebenarnya. Dari bentuk benda yang lebih rumit ditiru bagian-bagian pentingnya saja. Dengan demikian model ini masih tetap menunjukkan kesan bentuk yang sebenarnya, hanya dalam wujud yang sederhana. Banyak obyek yang riil tetapi sulit untuk dipelajari secara langsung, karena rumitnya konstruksi dari benda atau obyek tersebut.
Dengan model yang disederhanakan akan lebih mudah menangkap pengertian tentang struktur dari suatu bentuk yang terlalu rumit. Model ini merupakan tiruan dari benda sebenarnya dalam garis besar yang hanya mengutamakan ciri-ciri khususnya saja. Misal-nya menggambarkan sebuah pelabuhan dengan berbagai macam kendaraan, berbagai macam kapal, gedung-gedung atau bangunan gedung, para pekerjanya, mesin-mesin besar yang sedang bekerja disitu. Untuk menggambarkan situasi seperti ini tentu saja tidak dibuat dengan menampilkan sesuai dengan jumlah kapal yang sebenarnya, kendaraan dan bangunan-bangunan, tetapi dengan beberapa model kapal, model kendaraan, dua bangunan gedung, sebuah kantor dan beberapa model orang-orangan cukup dapat meng-gambarkan situasi sebuah pelabuhan.
Model Irisan
Untuk memperlihatkan struktur bagian dalam suatu bentuk atau obyek agar men-dapatkan pengertian yang jelas tentang bagian-bagiannya maka digunakanlah model irisan. Model irisan ini dibuat dengan beberapa alasan yang antara lain benda aslinya tertutup dan terlalu besar, misalnya gunung berapi, sedang murid memerlukan penjelasan tentang struk- tur bagian dalamnya. Alasan lain adalah alasan kesesuaian, misalnya untuk mendapat pema-haman yang jelas tentang struktur bagian dalam mata manusia, kita tidak mungkin membuat irisan langsung pada tubuh manusia, sekalipun sudah mati. Untuk itu diperlihatkan tiruan untuknya.
Model Lapangan
Model lapangan ini dibuat untuk menerangkan suatu daerah tertentu atau kondisi wilayah tertentu. Misalnya pelabuhan udara, daerah perkebunan, proyek perumahan, dan sebagainya, Model lapangan dibuat untuk memperjelas lokasi suatu bangunan tertentu. Tentu saja model lapangan ini perlu dilengkapi dengan berbagai bentuk model yang sedang disederhanakan. Biasanya model semacam ini disebut maket (maquette).Walaupun dilengkapi dengan berbagai model yang disederhanakan dan juga menggunakan prinsip model perbanding-an, dalam model ini yang diutamakan adalah bentuk kejelasan lokasinya. Dengan model ini orang yang akan mempelajari atau menyelidiki lokasi suatu daerah akan mendapat kejelasan yang memadai melalui model ini.
Model Susunan
Model susunan dimaksudkan struktur bagian dalam dari suatu benda, disamping memperlihatkan bagian dalam obyek juga dapat dilepas atau dipreteli untuk dipelajari satu per satu sehingga memperjelas pengertian. Dan bila sudah selesai dapat diletakkan kembali pada posisinya semula. Model ini dapat berupa variasi dari model irisan. Model irisan sendiri dapat disebut model terbuka, karena menggambarkan obyek yang aslinya dalam keadaan tertutup ditampilkan dalam model yang terbuka. Untuk model terbuka sebaiknya siswa disuruh hati-hati waktu mempelajarinya. Karena disamping mahal harganya, juga agak mudah rusak dan apabila alat penyetelnya rusak dapat mengganggu penampilan model tersebut dan mungkin tidak dapat disusun seperti semula.
Model Utuh
Pada suatu saat guru mengalami kesulitan untuk menerangkan suatu obyek yang sebenarnya tidak terlalu kecil, sehingga mudah untuk dapat dilihat dengan mata dan juga tidak terlalu besar, sehingga mudah untuk dibawa masuk kelas, tetapi benda asli yang dimaksudkan tidak ada lagi atau tidak mudah terjangkau karena tempatnya sukar untuk dicapai atau benda tersebut terlalu rawan untuk ditampilkan langsung misalnya mudah hancur, mudah membusuk dan sebagainya.
Untuk mengatasi problem tersebut di atas, maka guru berusaha membuat tiruan yang baik bentuk dan ukurannya ini disebut model utuh. Umumnya model ini dapat dibuat dari bahan plastik atau bahan karet.
Peta dan Macamnya
Peta Timbul
Peta timbul adalah peta yang dapat menunjukkan tinggi rendahnya permukaan bumi. Secara fisik peta timbul adalah termasuk model lapangan juga, walaupun untuk obyek lokasi yang lebih luas. Peta timbul mempunyai ukuran panjang, lebar, dan dalam (lekukan relief). Keuntungan peta timbul jika dibandingkan dengan peta datar adalah lebih mudah memberikan pengertian atau gambaran tentang keadaan permukaan bumi.
Dengan melihat peta timbul siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang perbedaan letak tepi pantai, dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, gunung berapi, lembah, danau-danau, dan sebagainya. Siswa akan mudah memperoleh pengertian atau memahami mengapa tinggi tempat/gunung diukur dari permukaan air laut dan sebagainya.
Peta timbul dapat dibuat oleh guru oleh guru bersama siswa. Dengan demikian akan dapat memupuk daya kreasi dan imajinasi siswa. Disamping itu dapat pula memupuk rasa tanggungjawab bersama terhadap hasil karya bersama. Berbagai macam bahan yang dapat dipakai untuk membuat peta timbul, antara lain: semen, tanah liat, serbuk gergaji, bubur kertas koran, dan lain-lain. Tentu saja pemilihan bahan yang akan dipakai harus disesuaikan dengan keperluan peta timbul yang akan dibuat. Misalnya apabila kita akan membuat peta timbul ukuran besar yang diletakkan dihalaman sekolah, lebih tepat bila menggunakan semen dan pasir. Sedangkan untuk membuat peta timbul yang dapat dipakai di dalam kelas dan dengan mudah dapat dibawa dari kelas yang satu ke kelas yang lain, lebih tepat kalau dibuat dari bahan yang ringan, yaitu bubur kertas koran.
Cara membuatnya pun berbeda-beda tergantung dari bahan yang akan dibaut dan tempat peta timbul itu dibuat. Sebagai pedoman dibawah ini disajikan cara membuat peta timbul bubur kertas.
a. Bahan-bahan yang diperlukan
1) Peta datar sesuai dengan peta timbul yang akan dibuat.
2) Papan alas yang dapat dibuat dari tripleks, anyaman bambu, papan kayu, dan sebagainya.
3) Kertas koran atau dapat kertas bekas yang lainnya.
4) Perekat kanji dan gom arabica atau lem kayu.
5) Cat warna.
Proses pembuatannya
1) Siapkan peta datar yang lengkap, sesuai dengan keperluan peta timbul yang akan dibuat.
2) Kertas koran disobek-sobek kecil-kecil dan direndam
dalam air,selama satu atau dua malam.
3) Sobekan kertas koran itu kemudian ditumbuk dan diaduk
dengan perekat dari kanji yang dicampuri sedikit dengan lem kayu (gom arabica).
4) Mulailah membuat peta pada alas papan yang telah disediakan, sesuai dengan rencana (sambil melihat peta datar yang diturun), dengan cara menempelkan bubur kertas koran itu pada papan sesuai dengan tinggi rendahnya tempat pada peta (perhatikan skala perbandingannya).
5) Setelah selesai peta tersebut dikeringkan, jangan lupa memeriksa jika ada yang retak
segera ditutup atau diperbaiki.
6) Setelah kering benar, berilah warna dengan bermacam-macam cat yang tersedia dan perlu diingat bahwa warna disamping memberikan arti tertentu pada peta juga berpengaruh untuk menampakkan adanya relief pada peta timbul. Perhatikan pedoman warna yang antara lain:
a) pemberian warna pada peta tidak bebas, karena warna peta mempunyai arti tersendiri. Karena itu warna yang digunakan adalah warna yang berlaku pada peta datar;
b) berilah warna dasar dulu secara keseluruhan dengan warna muda. Dataran rendah diberi warna hijau (hijau campur putih), dataran tinggi diberi warna kuning muda (kuning campur putih), hal ini perlu untuk memberikan efek yang cerah/ baik bagi pandangan mata, dan
c) kemudian baru diberi warna yang sebenarnya dengan pedoman makin rendah suatu dataran makin tua wrna hijaunya, makin tinggi dataran coklatnya makin tua.
Disamping cara di atas untuk membuat peta timbul dengan bahan yang sama dapat dilakukan dengan cara membuat cetakan dulu dari tanah liat, baru kemudian dilapis dengan potongan-potongan kertas, dan setelah kering baru diberi warna.Cara ini mempunyai keun-tungan yaitu kita dapat membuat peta timbul dengan menggunakan cetakan yang sama. Cara ini tepat bila kita bermaksud memproduksi peta timbul dalam jumlah yang banyak. Perlu diketahui pula bahwa dalam keadaan yang sebenarnya kita tak dapat membuat peta timbul dengan landasan atau alasan yang datar, sebab bentuk bumi yang sebenarnya adalah bulat. Mestinya peta timbul pun harus dibuat setidak-tidaknya melengkung.
G l o b e
Globe adalah model atau tiruan dari bentuk bumi yang diperkecil. Jadi globe sebe-narnya adalah termasuk model perbandingan.Globe memberikan keterangan tentang permukaan bumi pada umumnya dan khususnya tentang lingkungan bumi, aliran sungai dan langit. Dalam abad ke X, seorang rohaniwan terkenal yang bernama Gilbert (yang kemudian dikenal sebagai Paus Sylvester II) telah membuat dan menggunakan globe untuk mengajar astronomi.
Tujuan penggunaan globe
a) Menunjukkan bentuk bumi yang sebenarnya dalam bentuk dan skala kecil.
b) Menunjukkan jarak pada suatu titik tertentu.
c) Menunjukkan skala-skala yang menunjukkan jarak dan route dari pada lingkungan yang luas.
Jenis-jenis globe
Ditinjau dari segi ukurannya globe dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Ukuran globe ditentukan menurut panjang garis tengahnya. Ukuran yang paling umum adalah 8, 12, 18,, 20 dan 24 inci (satu inci = 25,4 mm). Globe 8 inci cocok untuk dipakai perseorangan. Globe 12 dan 16 inci yang biasa dipakai untuk kelompok atau kelas. Tentu saja makin besar makin baik karena jelas, tapi harganya juga makin mahal.
Ditinjau dari segi isinya, globe ada bermacam-macam tergantung dari keperluannya. Tetapi yang biasanya dipakai ada tiga jenis, yaitu:
Globe politik
Dibuat terutama untuk menunjukkan lokasi dan ikatan negara-negara, kota-kota penting, route perdagangan dan ciri-ciri lain yang diciptakan oleh manusia.
Globe fisikal politik
Dibuat untuk menunjukkan ciri-ciri politik seperti globe politik, tetapi juga meng-utamakan tinggi rendahnya daratan dan dalamnya laut dengan kode warna tertentu.
Globe buta
Dibuat hanya berupa garis-garis skala untuk menunjukkan tempat. Guru dan murid dapat melukiskan sendiri dengan kapur sesuai dengan bahan yang sedang dibicarakan. Globe ini dapat dibuat sendiri oleh guru bersama murid dengan bahan yang sederhana, dari kayu dan dicat hitam.
Penggunaan Globe
Dalam penggunaannya kita harus ingat bahwa keadaan bumi yang ditunjukkan pada globe hanya berupa garis-garis, warna-warna dan lambang-lambang yang tidak sama persis dengan keadaan bumi yang sebenarnya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu menggunakan globe, antara lain adalah:
a. Pengajaran ilmu bumi hendaknya dimulai dengan apa yang diketahui siswa. Widya wisata dan mengamati lingkungan yang dekat adalah merupakan dasar pembentukan pengertian geografis.
b. Ingat tidak ada orang yang langsung dapat membaca peta/globe. Oleh karena itu pertama harus dikenalkan arti lambang-lambang untuk membaca peta.
c. Pengajaran ilmu bumi hendaknya dimulai dengan pengertian dan fakta yang sederhana, kemudian makin lama makin kompleks.
d. Ajaklah anak untuk ikut aktif dalam kegiatan membuat peta, peta timbul, globe, dan sebagainya. Dalam mengajar ilmu bumi gunakan juga media yang lain.
Boneka
Boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bahkan sekarang termasuk tiruan dari bentuk binatang. Jadi sebenarnya boneka merupakan salah satu model perbandingan juga. Sekalipun demikian, karena boneka dalam penampilannya memiliki karakteristik khusus, maka dalam bahasan ini dibicarakan tersendiri. Dalam penggunaan boneka dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka.
Sejak tahun 1940-an pemakaian boneka ebagai media pendidikan menjadi populer dan banyak digunakan di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan di Amerika. Di Eropa seni pembuatan boneka telah sangat tua dan sangat populer serta lebih tinggi tingkat keahliannya dibandingkan di Amerika.
Di Indonesia penggunaan boneka sebagai media pendidikan massa bukan merupakan sesuatu yang asing. Di Jawa Barat dikenal boneka tongkat yang disebut “Wayang Golek” dipakai untuk memainkan cerita-cerita Mahabarata dan Ramayana. Di Jawa Timur dan di Jawa Tengah dibuat pula boneka tongkat dalam dua dimensi yang dibuat dari kayu dan disebut dengan nama “Wayang Krucil”. Di Jawa Tengah dan di Jawa Timur pula dikenal dengan boneka bayang-bayang yang disebut “Wayang Kulit”.
Untuk keperluan sekolah dapat dibuat boneka yang disesuaikan dengan cerita-cerita jaman sekarang. Untuk tiap daerah pembuatan boneka ini disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing.
Macam-macam Boneka
Dilihat dari bentuk dan cara memainkannya dikenal beberapa jenis boneka, antara lain:
Boneka jari
Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong, bambu kecil yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka ini dima-inkan dengan menggunakan jari tangan. Kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita/ dalam. Dapat juga dibuat dari semacam sarung tangan, dimana pada ujung jari sarung ta-ngan tersebut sudah berbentuk kepala boneka dan dengan demikian kita/ dalam tinggal memainkannya saja.
Boneka Tangan
Kalau boneka dari setiap ujung jari kita dapat memainkan satu tokoh, lain halnya dengan boneka tangan. Pada boneka tangan ini satu tangan kita hanya dapat memainkan satu boneka. Disebut boneka tangan, karena boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan (tanpa menggunakan alat bantu yang lain).
Cara memainkanya adalah jari telunjuk untuk memainkan atau menggerakkan kepala, ibu jari, dan jari tangan untuk menggerakkan tangan. Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah-sekolah sudah dilak-sanakan, bahkan dipakai diluar sekolah yaitu pada siaran TVRI dengan film seri boneka “Si Unyil”
Boneka Tongkat
Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan menggunakan tongkat. Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka. Wayang Golek di Jawa Barat misalnya adalah termasuk boneka jenis ini. Untuk keperluan penggunaan boneka tongkat sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah, maka tokoh-tokohnya dibuat sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya dibuat tokoh tentara, pedagang, lurah, nelayan dan sebagainya Boneka tongkat dapat dibuat darikayu yang lunak seperti kayu kemiri, randu, dan sebagainya.
Boneka Tali
Boneka tali atau “Marionet” banyak dipakai dinegara barat. Perbedaan yang menyolok antara boneka tali dengan boneka yang lain adalah, boneka tali bagian kepala, tangan, dan kaki dapat digerak-gerakkan menurut kehendak kita/dalangnya. Cara meng-gerakkannya dengan tali. Dengan demikian maka kedudukan tangan orang yang memain-kannya berada di atas boneka yang dimainkannya. Untuk memainkan boneka tali diperlukan latihan-latihan yang teratur, sebab memainkan boneka tali ini memerlukan keterampilan yang lebih sulit dibandingkan dengan memainkan boneka-boneka yang lainnya. Adakan tetapi memiliki kelebihan lebih hidup dari pada boneka yang lain, karena mendekati gerak manusia atau tokoh yang sebenarnya.
Boneka Bayang-bayang
Boneka bayang-bayang (Sadhow Puppet) adalah jenis boneka yang cara memainkannya dengan mempertontonkan gerak bayang-bayang dari boneka tersebut. Di Indonesia khususnya di Jawa dikenal dengan “Wayang kulit”. Namun untuk keperluan sekolah, wayang semacam ini dirasakan kurang efektif, karena untuk memainkan boneka ini diperlukan ruangan gelap/tertutup. lagi pula diperlukan lampu untuk membuat bayang-bayang layar.
Keuntungan Penggunaan Boneka
Beberapa keuntungan penggunaan boneka untuk sandiwara adalah:
1) Tidak memerlukan waktu yang banyak, biaya dan persiapan yang terlalu rumit.
2) Tidak banyak memakan tempat, panggung sandiwara boneka dapat dibuat cukup kecil dan sederhana.
3) Tidak menuntut keterampilan yang rumit bagi yang akan memainkannya.
4) Dapat mengembangkan imajinasi anak, mempertinggi keaktifan dan menambah suasana gembira.
Petunjuk Penggunaan Boneka sebagai Media Pembelajaran
Agar boneka dapat menjadi media instruksional yang efektif, maka perlu kita per-hatikan beberapa hal yang antara lain adalah:
(1) Rumusan tujuan pembelajaran dengan jelas. Dengan demikian akan dapat diketahui, Apakah tepat digunakan permainan sandiwara boneka atau sandiwara yang lain.
(2) Buatlah naskah atau skenario sandiwara yang akan dimainkan secara terperinci. Baik dialognya, settingnya dan adegannya harus disusun secara cermat, sekalipun dalangnya dimungkinkan untuk berimprovisasi saat ia mendalang/memainkan boneka tersebut.
(3) Permainan boneka mementingkan gerak dari pada kata. Karena itu pembicaraan jangan terlalu panjang, dapat menjemukan penonton. Untuk anak-anak usia kelas rendah sekolah dasar atau anak-anak TK, sebaiknya permainan boneka dirancang untuk banyak melibatkan dialog dengan anak pada saat permainan.
(4) Permainan sandiwara boneka jangan terlalu lama, kira-kira 10 sampai 15 menit. Agar pesan khusus yang disampaikan kepada anak dalam permainan sandiwara boneka tersebut dapat ditangkap/dimengerti oleh anak-anak/penonton.
(5) Hendaknya diselingi dengan nyanyian, kalau perlu penonton diajak nyanyi bersama. Bila perlu dilanjutkan dengan dialog atau diskusi dengan anak-anak/penonton untuk memantapkan pesan nilai yang diajarkan.
(6) Isi cerita hendaknya sesuai dengan umur dan kemampuan serta daya imajinasi anak-anak yang menonton.
(7) Selesai permainan sandiwara, hendaknya diadakan kegiatan lanjutan seperti tanya-jawab, diskusi atau menceritakan kembali tentang isi cerita yang disajikan.
(8) Jika memungkinkan, berilah kesempatan kepada anak-anak untuk memainkannya.
Dengan demikian anak-anak akan lebih menghayati peran dari boneka yang dimainkannya, serta karakter boneka yang dimainkannya.
Membuat Boneka Tangan
Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan dan pembelajaran di sekolah-sekolah sudah dilaksanakan, bahkan juga dipakai di luar sekolah (dalam siaran TVRI). Pemakaian boneka sebagai media pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik permainan sandiwara boneka. Untuk keperluan pementasan sandiwara boneka diperlukan dua perangkat alat utama, yaitu panggung dan boneka tangan.
Panggung
Panggung dapat dibuat dengan alat dan bahan yang sederhana, tetapi juga dapat dibuat dengan dilengkapi dengan berbagai sarana seperti dekorasi, tata lampu, kain penggalang pinggir dan sebagainya. Panggung yang sederhana dapat dibuat dari bahan bambu/kayu sebagai kerangkanya dan anyaman bambu sebagai penutup. Panggung yang baik dapat dibuat dari kayu yang kuat (tripleks yang cukup tebal) dan mudah dipindah-pindahkan (diberi roda).
Boneka tangan
Boneka tangan dapat dibuat dengan berbagai macam bahan dan cara. Satu di antara berbagai macam cara membuat boneka tangan (yang paling sederhana) adalah sebagai berikut:
Bahan dan Alat yang diperlukan
1) Kertas bekas (kertas koran, majalah, buku tulis dan sebagainya).
2) Perekat dari kanji.
3) Sepotong bambu kecil (lubangnya cukup dimasuki jari/telunjuk dan bambu ini akan dijadikan bagian leher dari boneka).
4) Kapas kasar.
5) Kertas layang-layang.
6) Wol-bekas, benang tenun, ijuk (untuk rambut).
7) aian bekas/sisa kain/kain perca.
8)Cat dan kuas.
9) Kain lap yang bersih dan ember.
Cara Membuat
a) Membuat rencana gambar (pola) wajah boneka yang akan dibuat, misalnya akan membuat tiruan wajah kanak-kanak, wanita dewasa atau pria dewasa.
b) Menyiapkan bambu kecil kira-kira panjang 10 cm (kulitnya dikupas) atau dapat juga diganti dengan pipa karton/plastik (paralon). Ingat besar lubang bambu/pipa harus cukup untuk dimasuki jari telunjuk yang akan memainkannya.
c) Membuat perekat dari kanji yang cukup kental dan jernih.
d) Menyobek-nyobek kertas yang telah tersedia (sobekan kertas yang telah direndam dalam air selama 1 atau 2 malam lebih bagus).
e) Tuangkan perekat dalam waskom yang telah berisi sobekan kertas.
f) Remaslah kertas dengan kanji sehingga benar-benar lumat.
g) Membentuk kepala boneka dengan menggunakan bubur kertas dan kanji pada bambu atau pipa kertas yang telah tersedia, sesuai dengan rencana gambar (pola).
h) Dengan mengggunakan kapas kasar menyusun muka boneka sesuai dengan rencana gambar.
i) Perhalus muka boneka dengan melapisinya dengan menggunakan kertas layang-layang.
j) Mengeraingkan kepala (ingat kepala jangan terlalu padat atau terlalu lunak/lembek).
Membuat Tangan dan Jari
Tangan dan jari boneka dapat dibuat tersendiri terpisah dari kepala dan tangan. Caranya dengan membuat kerangka lebih dahulu dari kawat, baru kemudian dilapisi dengan kain. Keuntungan yang diperoleh jika jari dibuat tersendiri adalah jari itu dapat dipakai untuk boneka yang lain. Tetapi lebih mudah jika tangan dan jari boneka dibuat dari kain menjadi satu dengan baju boneka. Hal yang perlu diperhatikan bahwa bentuk tangan boneka harus dapat dimasuki ujung ibu jari dan jari tengah.
Memberi Warna
Setelah kepala boneka kering benar, maka mulai memberi warna dengan cara memberi warna dasar lebih dahulu dengan warna muda. Baru kemudian memberi warna sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Hal yang harus diperhatikan adalah bentuk dan warna boneka disesuaikan dengan sifat tokoh yang akan ditampilkan (sebagai ayah, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, raksasa, dan sebagainya). Demikian juga perhatikan warna rambut dan pakaiannya, desesuaikan dengan usia tokoh yang ditampilkan.
Membuat baju
Perbandingan ukuran kepala dan besar baju juga harus diperhatikan (hendaknya serasi). Pemberian simbol dan perhiasan akan mempertinggi nilai boneka sebagai media pembelajaran. Simbol dapat dibuat dari buku ayam, tanda-tanda pekaian kebesaran, kertas berwarna, keris dari karton dan sebagainya.
T o p e n g
Topeng adalah tiruan dari wajah manusia, tetapi dapat juga dibuat topeng tiruan dari wajah binatang sebagai tokoh dalam cerita. Keistimewaan topeng dapat melukis-kan perangai orang atau tokoh pelaku tertentu dalam sandiwara topeng. Misalnya melukis-kan wajah orang pemarah, pemalu, penjahat dan sebagainya. Misalnya di Madura dikenal permainan sandiwara berupa wayang topeng, dengan lakon cerita dari Bharata Yuda atau Ramayana dan juga lakon-lakon yang ada dalam ketoprak.
Cara pemanfaatan topeng sebagai media pembelajaran dilakukan dengan cara dimainkan melalui sandiwara topeng atau “Role Playing” dengan menggunakan topeng.
Adapun langkah-langkah merencanakan sandiwara topeng adalah sebagai berikut.
a. Rumuskan tujuan pembelajaran dengan jelas. Dan tinjau kembali apakah tujuan-tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai secara efektif dengan media sandiwara topeng?
b. Buatlah naskah sandiwara yang akan dimainkan (skenario sederhana) yang dapat dipelajari dan dihafalkan oleh siswa yang akan memainkannya.
c. Setelah disiapkan setting kelasnya untuk pementasan, maka kita dapat mementaskan sandiwara, sentara siswa yang lain sebagai penonton yang mengikuti alur cerita dengan cermat.
e. Setelah selesai pementasan kegiatan kelas bisa dilanjutkan dengan diskusi untuk memecahkan masalah yang telah dipentaskan melalui dramatisasi tersebut. Dengan demikian sandiwara topeng dapat menjadi salah satu metode yang efektif untuk pendidikan sikap dan untuk menghidupkan berbagai matapelajaran bidang sosial yang lainnya.
Ada beberapa macam topeng yang dapat dipakai untuk pementasan sandiwara topeng. Di beberapa daerah di Indonesia, topeng dibuat dari bahan kayu. Misalnya topeng Jabung-Malang, Pakisaji- Malang, topeng Cirebon dan sebagainya. Selain itu topeng dapat dibuat dari bahan plastik-cetak. Untuk keperluan pembelajaran di sekolah, topeng dapat dibuat dari bahan yang jauh lebih murah, yaitu dari bahan kertas bekas.
Cara membuat topeng dari bahan bubuk kertas adalah sebagai berikut:
Bahan dan Alat yang diperlukan
• kertas bekas koran atau majalah, kertas layang-layang, perekat dari kanji.
• tanah liat untuk cetakan topeng:
- sabun hijau atau minyak kelapa
- alas dari papan ukuran 40 X 40 cm.
- sendok-sendok pencungkil
- cat dan kuas
- ember atau waskom
- kain lap yang bersih
- wol bekas, benang tahun
Cara membuatnya
• Membuat rancangan gambar atau pola topeng yang akan dibuat.
• Menyediakan alas untuk bekerja.
• Mengambil tanah liat sebesar kepalan tangan kita, letakkan di atas alas papan dan mulailah membentuk tiruan wajah sesuai dengan pola/rencana gambar.
• Keringkan bentuk wajah yang telah dibuat.
• Lumuri seluruh permukaan tiruan wajah dari tanah liat (cetakan topeng) dengan sabun hijau atau minyak kelapa.
• Rekatkanlah sobekan atau potongan kertas bekas selebar materai, berangsur-angsur di atas lapisan sabun atau minyak kelapa. Pada bagian yang banyak relief gunakan irisan/potongan kertas yang sempit/kecil, untuk bagian yang rata gunakan sobekan kertas yang lebih lebar.
• Untuk merapikan permukaan topeng, lapisilah wajah topeng dengan kertas layang-layang, Keringkanlah dan setelah kering topeng dilepas dari cetakan.
• Berilah warna seperti cara memberi warna boneka. Pilih warna cat sesuai dengan karakter yang ingin ditonjolkan.
• Dengan demikian maka selesailah dan topeng siap dipakai.
• Jangan lupa memberi lobang pada bagian kedua mata dan bagian kiri-kanan topeng, untuk tempat tali pengikat (dari karet gelang).
Bak Pasir
Banyak orang menganggap bahwa bak pasir hanya baik untuk permainan murid taman kanak-kanak saja. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Bak pasir sangat baik untuk memvisualisasikan suatu keadaan untuk diperhatikan oleh orang dewasa juga. Seorang Amerika Serikat bernama Norman Bel Geddes selagi Perang Dunia Kedua sedang berkecamuk mevisualisasikan dengan bak pasir peperangan di Midway dan Laut Koral sedemikian hidupnya sehingga foto dari bak pasir itu dikira orang hasil pemotretan dokumenter yang diambil dari pertempuran sebenarnya.
Dalam pendidikan kemiliteran bak pasir dianggap sangat penting untuk mengajarkan berbagai taktik perang. Oleh karena kesederhanaannya, begitu pula mudah membuatnya, bak pasir menjadi tempat yang efektif bagi seorang instruktur kemiliteran untuk menerangkan berbagai strategi lapangan.
Dengan menggunakan model-model kecil, pemandangan pada bak pasir bisa sangat hidup. Cermin yang diletakkan di bak pasir dapat merupakan danau. Banda-benda dapat dibuat dari karton atau balok-balok kayu kecil. Kalau pada bagian belakang bak pasir ditegakkan pula tripleks yang diberi gambar gunung dan langit biru dengan awan di sana sini, seperti latar belakang sebuah pentas, maka bak pasir itu memberi efek tiga dimensi yang menarik. Warna tentu menambah bagus bak pasir itu.
Untuk latihan kemiliteran, di dalam bak pasir terdapat selain pohon-pohonan juga model rumah-rumah penduduk, jembatan, gereja atau mesjid. Juga prajurit-prajurit dengan perwiranya dalam pakaian tempur, truk, tank, meriam dan lain-lain persenjataan dalam ukuran kecil.
Bak pasir dapat juga digunakan untuk penyuluhan pertanian atau pelajaran hortikultura dan pelajaran dekorasi eksterior. Juga besar sekali faedahnya untuk menjelaskan akibat erosi yang disebabkan oleh banjir akibat penebangan hutan secara liar. Begitu pula untuk menjelaskan bagaimana menyalurkan air untuk irigasi atau pemeliharaan ikan dalam kolam-kolam. Atau memberi gambaran bagaimana orang harus menebang hutan sesudah itu menanam kembali pohon-pohon yang baru.
Sama halnya dengan media tiga dimensi yang lainnya, bak pasirpun tidak boleh berlama-lama dibiarkan menjadi benda tak berguna setelah habis tugasnya atau pemanfaat-annya. Membuat bak pasir seperti juga membuat media tiga dimensi lainnya, sebaiknya dibuat secara gotong royong untuk membangkitkan perhatian kepada siswa dan mendorong kreativitas.
Kelebihan bak pasir adalah, bahwa benda itu dapat digunakan berulang-ulang karena mudah menyusun kembali bagian-bagiannya. Tetapi ini pulalah yang menjadi kelemahannya, sebab apa yang terdapat di dalamnya sepeeti pohon-pohohnan dan apa yang terdapat di dalamnya mudah sekali roboh atau terserak kalau tidak hati-hati menggunakannya. Apa yang terdapat dalam bak pasir tidak permanen, sehingga isinya dapat diubah-ubah sesuai dengan keinginan pemakainya atau maksud dari guru atau instruktur untuk mevisualisasikan apa yang ingin dijelaskannya. Seperti media tiga dimensi yang lainnya, dengan bak pasir, orang dapat melihatnya dari segala sudut pemandangan.
Kelemahan yang lain adalah jika guru kurang kreatif untuk memanfaatkan bak pasir dengan menata isinya dengan model-model tiruan yang lainnya, maka anak-anak akan menjadi kurang tertarik dengan tampilan bak pasir yang kita buat, sehingga akan menurun-kan tingkat efektivitasnya.
Bab 9
Perangkat Lain Media Tiga Dimensi
Pada bahasan ini dibicarakan beberapa media tiga dimensi yang bukan karena aseli atau tiruannya dibahas disini tetapi karena perangkatnya atau unsur perangkatnya berwujud tiga dimensi. Berturut-turut dibahas Mock-up, Diorama, Ritatoon, Rotatoon, dan Standar Lembar Balik.
Mock-up
Mock-up adalah alat tiruan tiga dimensi yang dapat memperlihatkan fungsi atau gerakan dari aspek tertentu saja dari benda, alat atau obyek yang akan diterangkan. Pada mock-up hanya nampak bagian yang penting yang perlu diperagakan gerakannya atau proses kerjanya kepada siswa, sedang bagian kecil lainnya yang dianggap tidak penting atau yang dapat mengganggu perhatian siswa dihilangkan.
Jadi sebenarnya mock-up terletak ditengah-tengah model tiruan dengan benda sebe-narnya. Dikatakan model tidak tepat, karena dapat memperlihatkan fungsi sebenarnya dari bagian alat itu, sebaliknya disebut benda sebenarnya juga tidak tepat, karena bagian-bagian lain dari bentuk benda aslinya yang tidak diterangkan, dihilangkan. Selain itu bahan baku yang dibuat untuk alat ini bisa dibuat dari bahan yang lain dari benda atau peralatan aslinya. Misalnya siswa waktu belajar tentang fungsi bel listrik. Pertama dapat dibuat model rumah yang sederhana, kemudian dibuat perangkat bel listrik yang sebenarnya dan dihubungkan dengan listrik (battery atau accu). Bel listrik ditempelkan pada dinding rumah-rumahan tersebut. Dengan demikian siswa dapat melihat proses kerjanya bel listrik dan tahu cara meletakkan bel listrik dan tahu cara meletakkan bel listrik yang baik. Contoh lain misalnya dibuat mock-up traffick light ukuran kecil yang dapat menyala. Kemudian dibuatkan model lapangan yang menggambarkan perempatan jalan dan traffick light tadi dipasang pada posisi yang tepat.
Diorama
Yang dimaksud dengan diorama adalah medium berupa kotak atau bentuk tiga dimensi yang lain yang melukiskan suatu pemandangan yang mempunyai latar belakang dengan prespektif yang sebenarnya, sehingga menggambarkan suatu suasana yang sebenarnya. Diorama adalah merupakan gabungan antara model dengan gambar prespektif dalam suatu penampilan yang utuh. Dengan diorama kesan visual yang diperoleh siswa lebih hidup. Peragaan melalui medium diorama bisa dilengkapi dengan lampu warna tertentu sehingga lebih memberikan kesan hidup dan dramatis. Diorama dapat dibuat dalam ukuran yang diperkecil, tetapi dapat pula dibuat dalam ukuran yang sebenarnya.
Ritatoon
Ritatoon adalah serangkaian gambar berbingkai atau gambar seri. Jadi sebenarnya wujut gambarnya sendiri bukan tiga dimensi, melainkan dua dimensi.Tetapi karena perangkat untuk meletakkan gambar berbingkai tersebut tiga dimensi, maka ritatoon termasuk golongan media yang ujud perangkatnya tiga dimensi.
Rotatoon
Rotatoon sebenarnya prinsipnya adalah gambar seri juga. Bedanya dengan ritatoon adalah rotatoon merupakan gambar seri yang berhubungan. Rotatoon dibahas dalam media tiga dimensi bukan karena gambarnya, melainkan karena perangkat untuk menampilkan berujud tiga dimensi. Rotatoon sebenarnya adalah merupakan penggunaan semacam “wayang beber” yang disempurnakan.
Standar Lembar Balik
Sesuai dengan namanya Standar Lembar Balik adalah standar yang dapat dipakai untuk menyajikan gambar seri dengan cara membalik-balik gambar seri tersebut. Media ini digolongkan tiga dimensi karena perangkat yang digunakan berujud tiga dimensi, yaitu standarnya. Alat ini dibuat dari standar yang berkaki empat dan seberkas gambar/bagan yang telah tersusun sesuai dengan urutan penyajiannya. Bahan untuk membuat standar ini dapat dibuat dari kayu, bambu, rotan, atau dapat juga dari besi. Tentu saja jika dibuat dari besi cara membuatnya juga lebih sukar, biasanya lebih mahal, tetapi penggunaannya lebih tahan lama dan lebih kuat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar