A.
Hakekat Belajar
Banyak aktifitas-aktifitas yang hampir setiap orang setuju, kalau itu
adalah perbuatan belajar seperti misalnya mendapatkan pembendaharaan kata-kata
baru, menghafal syair, menghafal nyanyian, dan sebagainya. Ada beberapa aktifitas tak begitu jelas
apakah tergolong sebagai perbuatan (hal) belajar; misalnya: mendapatkan
macam-macam sikap sosial (prasangka), kegemaran, pilihan dan lain-lain.
Adapun yang dimaksud dengan pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya.
Definisi-definisi dari belajar banyak dikemukakan oleh para ahli-ahli
diantaranya:
- Crombac, di dalam bukunya Educational Psychologi menyatakan bahwa: Learning is shown by a change in behavior as a result of experience. “Pelajaran ditujukan oleh suatu perubahan berperilaku sebagai hasil pengalaman”.
- Harold Spears (1955:94), menyatakan:
Learning is to observe, to read, to imitate, to try some thing
themselvels, to listen, to follow direction. “Pelajaran adalah mengamati,
membaca, meneliti, mencoba sesuatu pada diri mereka, mendengar, mengikuti
petunjuk”.
- Mcgeoh, mengatakan bahwa:
Learning is a change in performance as a result of practice. “Pelajaran
adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengamatan”.
- Hilgard, mengatakan:
Learning is the process by which an activity originates or is changed
through training procedures (whether in the laboratory or in the natural envi
ronment) as distingnished from change by factors not attributable to training. “pelajaran
adalah proses yang dimana memulai sebuah aktifitas atau diubah melalui prosedur
pelatihan (apakah dalam laboratorium atau di lingkungan alam) sebagai pembeda
oleh faktor yang tidak bisa dihubungkan dengan pelatihan.
B.
Ruang Lingkup Belajar
1)
Faktor-faktor yang berasal dari
luar diri pelajar, dan masih dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu:
a)
Faktor Non Sosial
Faktor ini boleh dikatakan juga terbilang jumlahnya
misalnya; keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu, tempat, alat-alat yang
dipake belajar.
b)
Faktor Sosial
Faktor sosial disini yaitu faktor manusia (sesama
manusia). Baik manusia itu ada maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi
tidak langsung hadir. Kehadiran orang pada waktu belajar seiring sekali
menganggu belajar.
2)
Faktor-faktor berasal dari diri si
pelajar.
a)
Faktor fisiologis dibagi 2 macam:
1.
Tonus jasmani
Keadaan tonus jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan
melatar belakangi aktifitas belajar. Oleh karena itu dua hal yang perlu
dikemukakan:
-
Nutrisi cukup karena kekurangan
kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya
dapat berupa kelesuan, lekas ngantuk dan lelah.
-
Beberapa penyakit yang mengganggu
belajar seperti: pilek, influensa, sakit gigi, batuk dan sejenisnya.
2.
Keadaan fungsi-fungsi jasmani
tertentu terutama panca indra.
b)
Faktor Psikologi
Hal yang mendorong seseorang untuk belajar:
-
Adanya sifat ingin tahu.
-
Adanya sifat kreatif dan keinginan
selalu maju.
-
Adanya keinginan mendapat simpati
dari orang tua, guru dan teman.
-
Adanya keinginan memperbaiki
kegagalan yang lalu.
-
Adanya keinginan dan kebutuhan
fisik.
-
Adanya kebutuhan untuk mendapat
kehormatan diri dari masyarakat.
C.
Aktifitas Belajar
Adapun tahap-tahap proses belajar yang dikemukakan oleh:
Ø
Jerome S. Bruner
Karena belajar itu merupakan aktifitas yang berproses
sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. S. R Bond
yang terbilang vokal, dalam proses belajar siswqa menempuh tiga episode/tahap,
yaitu:
1)
Tahap informasi (tahap penerimaan
materi)
Dalam tahap informasi, seorang siswa yang sedang
belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
Diantara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri
sendiri. Adapula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam
pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
2)
Tahap transformasi (tahap
pengubahan materi)
Informasi yang telah diperoleh itu dianalisis diubah,
atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak supaya kelak pada gilirannya
dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas.
3)
Tahap evaluasi (tahap penilaian
materi)
Seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana
informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami
gejala atau memecahkan masalah yang dihadapi.
Adapula kecakapan/hasil yang hendak kita capai dalam proses belajar
mengajar.
a)
Mengembangkan kecakapan kognitif
Sekurang-kurangnya dua macam kecakapan kognitif siswa
yang perlu dikembangkan khususnya oleh guru, yaitu:
1.
Strategi belajar, memahami isi
materi pelajaran.
2.
Strategi menyakini arti penting
isi materi pelajaran dan aplikasinya serta penyerapan-penyerapan pesan moral
yang ada pada materi tersebut.
b)
Mengembangkan kecakapan efektif
Keberhasilan ranah kognitif tidak hanya akan
membuahkan kecakapan kognitif, tetapi juga menghasilkan kecakapan ranah
afektif.
c)
Mengembangkan kecakapan psikomotor
Keberhasilan pengembangan ranah kognitif juga akan
berdampak positif terhadap perkembangan ranah psikomotor.
Kecakapan psikomotor ialah segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah
diamati, baik kuantitasnya dan kualitasnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Suryakarta, Sumadi. Psikologi
Pendidikan. Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2004.
Syah, Muhabbin. Psikologi
Belajar. Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2008.
Syah, Muhabbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. (Revisi
II; Bandung: Remaja Rosda Karya, 1997).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar