Al-Tanwir
Nomor: 152-Edisi: 14 November 1999/6 Sya’ban 1420 H
Aku Lebih Baik dari Dia
KH. Jalaluddin Rakhmat
Suatu hari, Allah swt berfirman kepada Nabi Musa
as, “Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang
yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.” Nabi Musa as lalu pergi ke
mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan
dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam
beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa
selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi
Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata,
“Aku lebih baik dari dia.”
Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk
ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal
yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak,
misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa
melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, “Mungkin sebaiknya aku
pergi membawa dia.” Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun
ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.
Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di
hadapan Allah swt, Tuhan bertanya, “Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan
kepadamu untuk kaubawa?” Nabi Musa menjawab, “Tuhanku, aku tidak menemukan
seseorang pun yang aku lebih baik darinya.” Tuhan lalu berfirman, “Demi
keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa
seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu
dari daftar kenabian.”
Kata ana khairun minhu atau “Aku lebih baik dari dia” pertama kali
diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk
sujud kepada Adam as tapi Iblis tidak mau. Ia beralasan, “Aku lebih baik dari
dia. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.” Takabur yang
dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur
karena keturunan.
Menurut Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang
menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, “Aku lebih baik dari dia,”
adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal.
Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam
masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem kemasyarakatan yang membagi
masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian masyarakat disebut berdarah biru
dan sebagian lagi berdarah merah.
Ada sebuah buku yang dengan secara terperinci
mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang merasa bahwa
mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid itu
berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh
sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang
beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang berpendapat
seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol. Dalam salah satu
buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu sebagai orang
yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis buku itu pun adalah seorang
sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.#
Penulis itu mengingatkan saya kepada Imam Ali
Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Thawus
Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, “Wahai Imam, mengapa engkau harus
beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw dan ibumu Fathimah as?”
Lalu Imam dengan marah menjawab, “Jangan sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku,
karena Allah swt akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya,
walaupun ia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke
neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid
dari bangsa Quraisy.”
Berbangga sebagai keturunan Rasulullah saw saja
adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai keturunan bukan
Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena keturunannya yang bukan Rasulullah
saw adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan berarti orang kaya
boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan ke neraka.
Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan
berdasarkan nasab. Tuhan berfirman, “Innâ akramakum ‘indallâhi atqâkum.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling
takwa.” (QS. Al-Hujrat 13 ) Pernah pada suatu hari, seseorang datang kepada
Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat Arab waktu
itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada jumlah jasa yang dilakukan nasab
itu. Karena itu, mereka sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu
memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan
kesembilan. Rasulullah saw hanya menjawab pendek, “Wa anta ‘âsyiruhum fin nâr.
Dan engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka.” Ia masuk neraka karena
ketakaburannya.
Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena
nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina Ali berkata,
“Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu.”
Al-Ghazali membagi takabur kepada dua bagian.
Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia.
Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan
takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah
para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena
ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya.
Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.
Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional
Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari perguruan
tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan nilai
tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan.
Dua tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang
itu. Orang yang pintar itu ternyata menganggur sementara orang yang tidak
pintar telah menjadi manajer di sebuah perusahaan. Selidik punya selidik,
ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak
bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak
memerlukan bantuan orang lain.
Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah
takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi sombong. Dalam
sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke majelis Nabi. Orang itu
dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya.
Tapi Nabi mengatakan, “Aku melihat bekas tamparan
setan di wajahnya.” Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang
itu merasa amal dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain,
Rasulullah saw bersabda, “Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia ini
semuanya sudah rusak,’(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak.”
Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga
dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan
segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah di masjid
seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang
seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.
Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya,
“Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu:
Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang
lebih tua, berpikirlah dalam hatimu:
Pasti amalnya lebih banyak dari amalku."
Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu
tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita
merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai
orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya
bisa karena ilmu atau karena amal.
Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah
takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan oleh beberapa
hal. Pertama, karena nasab, seperti telah dijelaskan di atas. Kedua, karena
harta kekayaan. Ketiga, karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. Kelima,
karena banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya
diderita oleh para ulama.
Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga
orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar biji sawi.”
Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat sebutir takabur atau tidak,
dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut:
Ketika Anda masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan Anda yang setara
dengan Anda duduk di tempat yang lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat
yang lebih rendah, apakah ada perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan
memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata
keturunannya tidak sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya?
Apakah Anda merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada
Anda? Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika
menghadiri pengajian? Jika Anda menjawab “ya” untuk salah satu dari pertanyaan
di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.
Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah hadis.
Rasulullah saw bersabda, “Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam
dirinya yang ia sembunyikan.” Hadis itu saya kira sangat modern. Menurut
Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau sombong di dunia ini
sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui
dan mereka berusaha menutupinya.
Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan
istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain bersikap
rendah hati. Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu temukan di antara umatku orang
yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada
mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap takabur,
maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi kepada
mereka.”
Ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad,
tanggal 5 September 1999, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung. Dengan beberapa
perubahan redaksional, ceramah ini ditranskrip oleh Ilman Fauzi R.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar