AKAN SELALU ADA JALAN BAGI YANG MAU BERBUAT

Safaruddinufe1121@gmail.com

TRANSLATE



JapaneseGermanEnglishFrenchSpainChinese SimplifiedArabicRussian

Translate

visitor

Sabtu, 02 November 2013

SIFAT-MAUSUF DAN MUDHAF-MUDHAF ILAIH


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah sesuatu yang tidak tepisahkan dari manusia. Ia mengikuti setiap pekerjaannya, mulai dari bangun, beraktivitas, sampai pada waktu beristirahat. Bahkan di saat tidur pun terkadang seseorang menggunakan bahasanya.[1]
Setiap suku atau bangsa yang ada di alam ini, mempunyai bahasa tersendiri, dan bahasa itulah yang dipakai mereka berkomunikasi. Karenanya, secara internasional, ditemukanlah beberapa macam bahasa, seperti bahasa Inggris, Francis, Jerman, Arab, Indonesia, Melayu, Urdu, dan sebagainya.
Bahasa Arab merupakan bahasa Semit dimana memiliki ciri-ciri yang sangat memukau pada umumnya dan bahasa Arab khususnya adalah sistym pola(patron) dan akar katanya secara tipikal yang terdiri atas tiga konsonan pada suatu order tertentu atau memiliki tiga huruf mati yang dibentuk dengan jalan pemasangan rangkaian(afikasi) berupa Awalan, (prefiks) dan akhiran(sufiks) serta perubahan huruf-huruf hidup.[2]
Kaum muslimin telah memahami bahwa bahasa Arab merupakan Bahasa Alquran dan setiap orang muslim yang ingin menyelami ajaran islam yang sebenarnya secara mendalam, maka harus mampu menggali dari sumber asalnya, Alquran dan sunnah Rasulullah saw.
Oleh karena itu, menurut kaidah hukum Islam, memahami bahasa Arab untuk menggali Alquran secara mendalam hukumnya fardu ‘ain. Yang menisbahkan setiap orang muslim memiliki pengetahuan agar dapat memahami ajaran Islam langsung pada sumbernya.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh umat Islam non arab termasuk yakni kesulitan mempelajari bahasa Arab. bahasa Arab dianggap masalah serius karena materi pelajarannya yang dianggap rumit dan metode pembelajarannya juga serung dianggap sulit.
Mengingat pentingnya untuk mempelajari bahasa Arab, maka dengan niat menambah ilmu penulis menyusun makalah dengan judul Mudhaf-Mudhaf Ilaih Dan Sifat-mausuf .
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan mudhaf-mudhaf ilaih
2.      Apa yang dimaksud sifat-mausuf ?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Mudhaf-Mudhaf Ilaih
Ada beberapa pandangan mengenai mudhaf-mudhaf ilaih diantaranya;
المضف اليه هو اسمٌ نُسِبَ اِلَيهِ اسمٌ سَابِقٌ لِيَتَعَرَّفَ السَبِقٌ بِاللَّا حِقِ اَويَتَحَصَّصَ
Artinya:
Mudhaf Ilaih adalah isim yang dimajemukkan dengan isim yang sebelumnya dengan maksud menjadikannya ma’rifat atau menghususkannya.[3]
Rangkaian dua buah Isim atau lebih, satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin) dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang adalah Ma'rifah dinamakan Mudhaf Ilaih. 
Contoh:
بَيْتُ الْمُدَرِّسِ
(=buku guru)
بَيْتُ زَيْدٍ
(=rumah Zaid) --> Zaid = Isim 'Alam (Ma'rifah)
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ
(=kunci rumah guru)
Mudhaf-mudhaf ilaih adalah bentuk penyandaran suatu isim dengan isim yang lain.
Contoh:
كِتَابُمُحَمَّدٍ (Bukunya Muhammad)                                  خَاتَمُذَهَبٍ (Cincin emas)
1.    Isim Isim yang pertama yaitu كِتَابُ dan خَاتَمُ dikenal dengan istilah mudhaf.
2.    yang kedua yaitu مُحَمَّدٍ dan ذَهَبٍ dikenal dengan istilah Mudhaf ilaihi
Mengingat susunan idhafah adalah terdiri dari mudhaf- Mudhaf ilaihi, terkadang istilah idhafah dikenal dengan istilah mudhaf – Mudhaf ilaihi. Dimana I’rab mudhaf adalah mengikuti kedudukannya didalam kalimat adapun I’rab Mudhaf ilaihi  adalah selalu majrur.
Contoh:
كِتَابُمُحَمَّدٍمُفِيْدٌ                                (Bukunya Muhammad bermanfaat)    
أَسْتَعِيْرُكِتَابَمُحَمَّدٍ                               (Aku meminjam bukunya Muhammad)
هَذِهِالْمُلاَحَظَةُمَوْجُوْدَةٌفِيكِتَابِمُحَمَّدٍ        (Catatan ini terdapat di bukunya Muhammad)
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka mudhaf – Mudhaf ilaihi merupakan dua buah isim atau lebih dalam satu kata dimana terdapat penyandaran di antara kedua isim tersebut sebagaimana yang telah di contohkan di atas.
Macam-MacamMudhafilaihi
أَنْوَاعُالْمُضَافِإِلَيْهِ
1.      Mu’rob
Mudhaf ilaihi yang berbentuk isim mu’rab harus selalu majrur. Contoh:
كِتَابُالْمُسْلِمِ                                  كِتَابُالْمُسْلِمَيْنِ                                كِتَابُالْمُسْلِمِيْنَ
2.      Mabni
Mudhaf ilaihi yang berbentuk isim mabni tidak mengalami perubahan harokat akhir (sesuai bentuk aslinya).
Contoh:
كِتَابُكَ (Kitabmu – laki-laki)       كِتَابُكِ (Kitabmu – wanita)

Syarat-Syarat Idhofah
شُرُوْطُالإِضَافَةِ
Syarat-syarat idhofah ada 3:
1.      Mudhaf tidak boleh ditanwin. Contoh:
حَقِيْبِةٌ = Mudhaf
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi
Susunan idhofahnya adalah,
حَقِيْبَةُمُحَمَّدٍ                            (Tas Muhammad)
جَوَّالٌ = Mudhaf
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi
Susunan idhofahnya adalah:
جَوَّالُمُحَمَّدٍ                 (Handphone Muhammad)
2.      Membuang nun mutsanna atau jama’ pada Mudhaf.
Contoh:
كِتَابَانِ = Mudhaf
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi

Susunan idhofahnya,
كِتَابَامُحَمَّدٍ         (Kitab Muhammad)

مُدَرِّسُوْنَ = Mudhaf
مَعْهَدٌ = Mudhaf ilaihi

Susunan idhofahnya
 (Para pengajar ma’had)
مُدَرِّسُوْمَعْهَدٍ




3.      Membuang alif lam dari Mudhaf
Contoh:
Mudhaf
Mudhaf ilaihi
Susunan idhofahnya
الرَّسُوْلُ
اللهُ
رَسُوْلُاللهِ
البَابُ
الْمَسْجِدُ
بَابُالْمَسْجِدِ
Faidah Idhofah
Faidah:
1.      Secara umum, kandungan makna idhofah mempunyai tiga arti:
a.       Bermakna مِنْ (dari)
Contoh:
(Cincin besi)
خَاتَمُحَدِيْدٍ
Makna:
(Cincin dari besi)
خَاتَمٌمِنْحَدِيْدٍ
b.      Bermakna لِ (milik)
Contoh:
(Rumah Ali)
بَيْتُعَلِيٍّ    
Makna:
(Rumah milik Ali)
بَيْتٌلِعَلِيٍّ
c.       Bermakna فِي (di dalam)
Contoh:
(Azab Kubur)
عَذَابُالقَبْرِ
Makna:
(Azab di dalam kubur)
عَذَابٌفِيالقَبْرِ
2.      Apabila Mudhaf berupa isim yang berakhiran dengan alif, dan Mudhaf ilaihi berupa ya’ mutakallim, maka ya’ ditulis dengan harakat fathah
Contoh:
                                                                                           يَدَايَ       (Kedua tanganku)
Berasal dari يَدَانِ sebagai Mudhaf, nunnya dibuang sehingga bentuknya menjadi يَدَا. Mengingat يَدَا berakhiran alif, maka ketika diidhofahkan kepada ya’ mutakallim menjadi يَدَايَ .
هُدَايَ (Petunjukku) berasal dari اَلْهُدَى dan ya’ mutakallim (ي)
سِوَايَ (Selainku) berasal dari سِوَى dan ya’ mutakallim (ي)
3.      Apabila Mudhaf berupa isim yang berakhiran dengan ya’ dan Mudhaf ilaihi berupa ya’ mutakallim, maka ya’ ditulis dengan fathah yang ditasdid.
Contoh:
(Para pengajarku)
مُدَرِّسِيَّ
Berasal dari
مُدَرِّسِيْنَ
danya’ mutakallim (ي)
(Pengacaraku)
مُحَامِيَّ
Berasal dari
اَلْمُحَامِي
dan ya’mutakallim (ي)
B.     Pengertian SHIFAT ( صِفَة ) - MAUSHUF ( مَوْصُوْف )
Sifat ( الصفة ) ialah kata yang menjelaskan sifat atau keadaan kata benda sebelumnya. Dan kata benda sebelumnya itulah yang disebut dengan al-mausuf ( الموصوف  ).[4] Contoh : الطالب الجديد . Kata الطالب  adalah mausuf, sedangkan kata الجديد  adalah siifat.
بَيْتٌ جَدِيْدٌ
= (sebuah) rumah baru
اَلْبَيْتُ الْجَدِيْدُ
= rumah yang baru
بَيْتٌ كَبِيْرٌ وَاسِعٌ
= (sebuah) rumah besar lagi luas
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ الْوَاسِعُ
= rumah yang besar lagi luas
Dengan melihat contoh di atas, dapat dipahami bahwa al-sifat wa al-mausuf adalah susunan kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih,Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma'rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang yang di belakang adalah Shifat.Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antara kedua kata tersebut terdapat pengertian “yang”.[5]
Untuk lebih jelasnya susunan kalimat seperti yang disebutkan di atas, berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh :
1.      Mahasiswa baru = mahasiswa yang baru ( طالب جديد  = الطالب الجديد  );
2.      Mahasiswi cantik = mahasiswi yang cantik ( طالبة جميلة  = الطالبة الجميلة  );
3.      Guru mulia = guru yang mulia ( استاذ كريم  = الاستاذ الكريم  );
4.      Pegawai rajin = pegawai yang rajin ( موظف مجتهد  = الموظف المجتهد  ).
Istilah lain dari al-sifat wa al-mausuf  adalah  al-na’at  wa  al-man’ut  (النعت والمنعوت ). Meskipun istilahnya berbeda, tetapi oprasionalnya sama. Tentang al-na’at, ulama membaginya atas dua bagian, yaitu :
Al-na’at al-haqiqi(النعت الحقيقى) dan Al-na’at al-sababi ( النعت السببى).
Al-na’at yang disebutkan pertama ialah sifat yang menjelaskan keadaan yang disifatinya, contoh : هو ولد نشيط   (dia anak yang rajin). Adapun al-na’at yang disebutkan kedua ialah sifat yang menjelaskan keadaan kata lain yang ada hubungannya dengan yang disifatinya, contoh : هو ولد نشيط والده  (dia, anak yang rajin ayahnya).[6]


Lafazh-lafazh yang Dijadikan Sifat.
Menurut Fuad Ni’mah, sifat (na’at) dapat dibentuk dari tiga hal, yaitu :
1.      Isim ¨zhahir, seperti kata عظيمة  . Contohnya : القاهرة مدينة عظيمة  .
2.      Syibh al-jumlah, baik dalam bentuk zharaf maupun jar wa majr­ur.
-          Dalam bentuk zharaf, seperti kata فوق  . Contohnya :
للحق صوت فوق كل صوت  ;
-          Dalam bentuk jar wa majr­ur, seperti kata من  . Contohnya :
نذاع الحان من ورائع النغم  .
3.      Jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyah.
-          Dalam  bentuk  jumlah  ismiyah. Contohnya : مضى يوم برده قارص . Kalimat برده قارص  adalah sifat dari kata يوم  .
-          Dalam bentuk jumlah fi’liyah. Contohnya : هذا عمل يفيد  . Kata يفيد  adalah sifat dari kata   عمـل .[7]
Ahmar Thib Raya dan Musda Mulia dalam bukunya menyatakan bahwa lafal atau isim yang bisadijadikan sifat ialah isim yang bisa juga dijadikan khabar nubtada’, yaitu :
1.      Al-sifat al-musyabbahah. Kata sifat dalam katagori ini meliputi berbagai timbangan, seperti :  فعيل , افعل , اسم الفاعل, اسم المفعول, الاسم بياء النسبة  . Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dikemukakan contoh-contohnya :
  1. Dalam timbangan فعيل  seperti : ضعيف, سمين, كريم  ;
  2. Dalam timbangan افعل  seperti : ابيض, اسود, اصفر  ;
  3. Dalam timbangan اسم الفاعل  seperti : القائم, النائم, الحاضر  ;
  4. Dalam timbangan اسم المفعول  seperti : المكتوب, المقروء, المشروب  ;
  5. Dalam timbangan الاسم بياء النسبة  seperti : عربي, مصري, اسلامي   .
2.      Isim ‘alam. Contoh : -  محمد المصري  ;
                                     -فاطمة المصرية   .[8]
Ketentuan Khusus dalam al-sifat wa al-Mausuf
Terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menyusun kalimat al-siifat wa al-mausuf. Ketentuan yang dimaksud, meliputi 11 hal, yaitu:
1.      Apabila yang disifatinya musakkar, maka sifatnya juga harus musakkar. Contoh :  حضر الطالب الجديد  .
2.      Apabila yang disifatinya muannas, maka sifatnya juga harus muannas. Contoh :  حضرت الاستاذة الكريمة  .
3.      Apabila yang disifatinya nakirah, maka sifatnya juga harus nakirah. Contoh :  -   حضر طالب جديد  ;
-          حضرت طالبة جديدة  .
4.      Apabila yang disifatinya ma’rifah, maka sifatnya juga harus ma’rifah. Contoh :  -  جاء الاستاذ الكريم  ;
-          جاءت الاستاذة الكريمة  .
5.      Apabila yang disifatinya tunggal (mufrad), maka sifatnya juga harus tunggal. Contoh :  -  دخل الرجل السمين  ;
              -  دخلت المرأة  السمينة  .
6. Apabila yang disifatinya musanna, maka sifatnya juga harus musanna. Contoh :  -   دخل العميدان الكريمان  ;
-          دخلت العميدتان الكريمتان  .
7.      Apabila yang disifatinya jamak berakal, maka sifatnya juga harus jamak. Contoh:   -  جاء المديرون الكرام  ;
-          جاءت المديرات الكريمات  .
8.      Apabila yang disifatinya jamak tidak berakal, maka sifatnya harus tunggal muannas. Contoh :  - شربت الجواميس الكبيرة  ;
                                                 -  ضاعت الكتب الجديدة   .
9. Apabila  yang  disifatinya marfu’, maka sifatnya juga harus marfu’.    Contoh :  -  الموظف المجتهد نشيط   ;
-          حضرت الموظفة النشيطة  .
10.  Apabila yang disifatinya mansub, maka sifatnya juga harus mansub.
Contoh :  -  شربت القهوة الساخنة  ;
-          تلقيت الهدية الثمينة  .
11.  Apabila yang disifatinya majrur, maka sifatnya juga harus majrur.
Contoh :  -  دخلنا على العميد الكريم  ;
                     - اكتب بالقلم الجديد   .[9]
Kedudukan al-Mausuf dan I’rab siifat-nya
Pada pembahasan berikut ini akan dijelaskan kedudukan mausuf dalam susunan kalimat, yang mana i’rab sifatnya mengikuti mausuf-nya. Dalam beberapa keadaan, hubungan antara mausuf dengan sifatnya tetap terpelihara, misalnya :
1.      Sifat pada al-mubtada’.  Dalam hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya, yaitu marfu’. Contoh : -  الطالب الجديد حضر  ;
                                         -  الطالبة الجديدة حضرت  .
2.      Sifat pada al-khabar. Kedudukan sifat dengan mausuf-nya sama seperti di atas, yaitu marf­u’. Contoh : -  هذا كتاب جديد  ;
                                                    -هذه كتب جديدة   .
3.      Sifat pada al-fa’il. Sebagaimana halnya dengan al-mubtada’ dan al-khabar, sifat al-fa’il juga mengikuti mausuf-nya dalam bentuk marfu’.
Contoh : -  حضر الاستاذ الكريم  ;
                    -  حضرة الاستاذة الكريمة  .
4.      Sifat pada al-maf’ul bih. Dalam hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya, yaitu mansub.
Contoh :  -  ساعدت الرجل الضعيف  ;
                     -  ساعدت الفقيرة الضعيفة  .
5.      Sifat pada isim majrur. Dalam hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya, yaitu majrur. Contoh : -  نظرت الى العامل القوى ;
                                             - نظرت الى العمال الاقوياء  .[10]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sebagaimana halnya dengan bahasa-bahasa lainnya, bahasa Arab mempunyai kaidah atau tata bahasa tersendiri.  Dalam kaidah tersebut, dikenal bermacam-macam isim, dan di antaranya adalah mudhaf-mudaf ilaihi dan siifat-mausuf.
Mudhaf-mudhaf ilaihi atau juga sering diknal dengan idhofah merupakan Rangkaian dua buah Isim atau lebih, dimana satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin) dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang adalah Ma'rifah dinamakan Mudhaf Ilaih.
Idhofah memiliki syarat yakni mudhaf tidak boleh bertanwin, membuang nun mutsanna dan jamak serta membuang alif lam pada mudhaf. Selain dari pada itu juga terdapat faidah tertentu.
Al-siifat wa al-mausuf atau istilah lainnya al-na’at wa al-man’ut adalah susunan kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih, yang menunjukkan kepada kata benda, dan kata benda tersebut diikuti kata sifat. Jika kalimat tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antara kedua kata dimaksud terdapat kata sisipan “yang”.
Lafal-lafal yang dapat dijadikan kata sifat (menyifati suatu kata benda) ialah : isim zhahir, Syibh al-jumlah, jumlah ismiyah, jumlah fi’liyah, siifat al-musyabbahah, dan isim ‘alam.
Pada umumnya, kedudukan kata sifat dalam susunan kalimat al-siifat wa al-mausuf, selalu mengikuti mausuf-nya. Misalnya, jika mausuf-nya musakkar, maka sifatnya juga musakkar. Sebaliknya, jika mausuf-nya muannas, maka sifatnya juga muannas. Demikian pula apabila mausuf-nya nakirah atau ma’rifah, maka sifatnya juga nakirah atau ma’rifah. Ketentuan ini berlaku pula dalam susunan kalimat dalam bentuk tunggal (mufrad), musanna atau jamak. Terjadi pengecualian dalam susunan kalimat yang mausuf-nya jamak tidak berakal, maka dalam hal ini sifatnya harus mufrad muannas.
B.     Rekomendasi
Penulis merekomndasikan agar para pembaca yang budiman senantiasa menambah hirarki keilmuan terutama bahasa, karena bahasa merupakan dasar untuk berkomuikasi, termasuk antara lain adalah bahasa Arab yang juga merupakan bahasa Alquran, sehingga dengan adanya pemahaman tentang bahasa Arab yang tentunya akan menjadi motivasi bagi semua kalangan untuk terus membaca Alquran.
Alquran tidak akan menjadi penghias lemari ataupun dinding di setiap rumah orang-orang muslim, yang nampak elok dengan keindahannya namun tak perna tersentuh dan dibaca oleh pemiliknya. Seolah hanya menjadi bahan seremonial dan pelengkap yang menandakan bahwa pemilik rumah baragama, padahal kedudukan Alquran sebagai petunjuk tidak agi mnempati posisinya, melainkan hanya menjadi perhiasan belaka.
Demikian rekomendasi penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman terkhusus bagi penulis, akhirnya kita melangkah bersama dan persembahkan yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangi, mengenal dan senantiasa mengiringi lankah ini.


KEPUSTAKAAN

Abd al-Hamid, Muhammad Muhy al-Din.  Al-Tuhfat al-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajr­miyyah. Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth.
Fahmi, A.H.Akrom. Ilmu  Nahwu dan Sharaf (Tata Bahasa Arab) Praktis dan Aplikatif. Cet.I, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 1995.
Al-Galayin, Syekh Musi¯afa. Jami’ al-Dur­s al-‘Arabiyyah. Cet.XII, Bair­t, Dar al-Asiriyyah, 1973.
Muhammad, Abu Bakar. Tata Bahasa Bahasa Arab : Bagian Fi’il dan Isim – Isim yang Marfu’. Surabaya, al-Ikhas, tth.
Ni’mah, Fuad. Mulkhasi Qawaid al-Lugah al-‘Arabiyyah. Cet.X, Damsyiq, Dar al-Hikmah li al-°aba’ah wa al-Nasyr, tth.
Raya, Ahmad Thib dan Musda Mulia. Pangkal Penguasaan Bahasa Arab. Jakarta, PT.Al-Quswa, tth.
Samsuri. Analisis Bahasa. Cet.VIII, Jakarta, Erlangga, 1991.
Al-°an¯awi, Muhammad. Nasy`ah al-Nahwi. Cet.V, Mesir, Dar al-Manar, 1987.



[1]Lebih lanjut Samsuri mengatakan bahwa bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian seseorang. Dari bahasa seseorang dapat ditangkap motif keinginannya, pergaulannya, latar belakang pendidikannya, dan sebagainya. Baca bukunya, Analisis Bahasa, (cet.VIII; Jakarta : Erlangga, 1991), h. 4-5.
[2]Moh. Saifullah Al Aziz senali, Metode Pmblajaran Ilmu Nahwu,(Surabaya: Terbit Terang, 2005) h. 16
[3] Hifni Bek Dayyab, dkk. Qawa’idul ‘I-Lughati ‘I- Arabiyah, terj. Chatibul Umam dkk, Kaidah Tata Bahasa Arab,(Cet. XI: Jakarta ; Darul Ulum Press, 2010),h. 293
[4]Ahmad Thib Raya dan Musda Mulia, Pangkal Penguasaan Bahasa Arab, (Jakarta : PT.Al-Quswa, tth.), Buku II, h. 64.
[5]Ibid., h. 64-65.
[6]Abu Bakar Muhammad, Tata Bahasa Bahasa Arab : Bagian Fi’il dan Isim – Isim yang Marfu’, (Surabaya : al-Ikhas, tth.), Jilid I, h. 250. Pengertian yang sama terdapat juga dalam Muhammad Muhy al-Din ‘Abd al-Hamid, al-Tuhfat al-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajr­miyyah, (Bairut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth.), h. 122-123.
[7]Keterangan lebih lanjut, baca Fuad Ni’mah, Mulkha¡ Qawaid al-Lugah al-‘Arabiyyah, (cet.IX; Damsyiq : Dar al-Hikmah li al-°aba’ah wa al-Nasyr, tth.), h. 52-53.
[8]Lihat Ahmad Thib Raya dan Musda Mulia,h. 78-81.
[9]Lihat Ahmad Thib Raya dan Musda Mulia, h. 66-70. Juga Muhammad Muhy al-Din ‘Abd al-Hamid, h. 123-1234.
[10]Lihat Ahmad Thib Raya dan Musda Mulia, h. 71-75.

1 komentar:

  1. Terima kasih atas sharing ilmunya. Sangat detil dan lengkap serta mudah difahami susunannya. Semoga ilmunya berkah.

    BalasHapus