BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Bahasa adalah sesuatu yang tidak tepisahkan dari manusia. Ia
mengikuti setiap pekerjaannya, mulai dari bangun, beraktivitas, sampai pada
waktu beristirahat. Bahkan di saat tidur pun terkadang seseorang menggunakan
bahasanya.[1]
Setiap suku atau bangsa yang ada di alam ini, mempunyai bahasa
tersendiri, dan bahasa itulah yang dipakai mereka berkomunikasi. Karenanya,
secara internasional, ditemukanlah beberapa macam bahasa, seperti bahasa
Inggris, Francis, Jerman, Arab, Indonesia, Melayu, Urdu, dan sebagainya.
Bahasa Arab merupakan bahasa Semit
dimana memiliki ciri-ciri yang sangat memukau pada umumnya dan bahasa Arab
khususnya adalah sistym pola(patron) dan akar katanya secara tipikal yang
terdiri atas tiga konsonan pada suatu order tertentu atau memiliki tiga huruf
mati yang dibentuk dengan jalan pemasangan rangkaian(afikasi) berupa Awalan,
(prefiks) dan akhiran(sufiks) serta perubahan huruf-huruf hidup.[2]
Kaum muslimin telah memahami bahwa
bahasa Arab merupakan Bahasa Alquran dan setiap orang muslim yang ingin
menyelami ajaran islam yang sebenarnya secara mendalam, maka harus mampu
menggali dari sumber asalnya, Alquran dan sunnah Rasulullah saw.
Oleh karena itu, menurut kaidah
hukum Islam, memahami bahasa Arab untuk menggali Alquran secara mendalam
hukumnya fardu ‘ain. Yang menisbahkan setiap orang muslim memiliki
pengetahuan agar dapat memahami ajaran Islam langsung pada sumbernya.
Salah satu masalah yang dihadapi
oleh umat Islam non arab termasuk yakni kesulitan mempelajari bahasa Arab.
bahasa Arab dianggap masalah serius karena materi pelajarannya yang dianggap
rumit dan metode pembelajarannya juga serung dianggap sulit.
Mengingat pentingnya untuk mempelajari
bahasa Arab, maka dengan niat menambah ilmu penulis menyusun makalah dengan
judul Mudhaf-Mudhaf Ilaih Dan Sifat-mausuf .
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan mudhaf-mudhaf ilaih
2.
Apa
yang dimaksud sifat-mausuf ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Mudhaf-Mudhaf Ilaih
Ada beberapa pandangan mengenai mudhaf-mudhaf ilaih diantaranya;
المضف اليه هو اسمٌ نُسِبَ اِلَيهِ اسمٌ سَابِقٌ لِيَتَعَرَّفَ السَبِقٌ
بِاللَّا حِقِ اَويَتَحَصَّصَ
Artinya:
Mudhaf Ilaih adalah isim
yang dimajemukkan dengan isim yang sebelumnya dengan maksud
menjadikannya ma’rifat atau menghususkannya.[3]
Rangkaian
dua buah Isim atau lebih, satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi
tanpa tanwin) dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang
adalah Ma'rifah dinamakan Mudhaf Ilaih.
Contoh:
|
بَيْتُ الْمُدَرِّسِ
|
(=buku guru)
|
|
بَيْتُ زَيْدٍ
|
(=rumah
Zaid) --> Zaid = Isim 'Alam (Ma'rifah)
|
|
مِفْتَاحُ
بَيْتِ الْمُدَرِّسِ
|
(=kunci rumah
guru)
|
Mudhaf-mudhaf ilaih adalah bentuk penyandaran
suatu isim dengan isim yang lain.
Contoh:
Contoh:
كِتَابُمُحَمَّدٍ (Bukunya Muhammad) خَاتَمُذَهَبٍ (Cincin emas)
1.
Isim Isim yang pertama yaitu كِتَابُ dan خَاتَمُ dikenal dengan istilah mudhaf.
2.
yang kedua yaitu مُحَمَّدٍ dan ذَهَبٍ dikenal dengan istilah Mudhaf ilaihi
Mengingat susunan idhafah
adalah terdiri dari mudhaf- Mudhaf ilaihi, terkadang istilah idhafah
dikenal dengan istilah mudhaf –
Mudhaf ilaihi. Dimana I’rab mudhaf adalah
mengikuti kedudukannya didalam kalimat adapun I’rab Mudhaf ilaihi
adalah selalu majrur.
Contoh:
كِتَابُمُحَمَّدٍمُفِيْدٌ (Bukunya
Muhammad bermanfaat)
أَسْتَعِيْرُكِتَابَمُحَمَّدٍ (Aku meminjam bukunya Muhammad)
هَذِهِالْمُلاَحَظَةُمَوْجُوْدَةٌفِيكِتَابِمُحَمَّدٍ (Catatan ini terdapat di bukunya Muhammad)
أَسْتَعِيْرُكِتَابَمُحَمَّدٍ (Aku meminjam bukunya Muhammad)
هَذِهِالْمُلاَحَظَةُمَوْجُوْدَةٌفِيكِتَابِمُحَمَّدٍ (Catatan ini terdapat di bukunya Muhammad)
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka mudhaf – Mudhaf
ilaihi merupakan dua buah isim atau lebih dalam satu kata dimana terdapat
penyandaran di antara kedua isim tersebut sebagaimana yang telah di contohkan
di atas.
|
Macam-MacamMudhafilaihi
|
أَنْوَاعُالْمُضَافِإِلَيْهِ
|
1.
Mu’rob
Mudhaf ilaihi yang berbentuk isim mu’rab harus selalu majrur. Contoh:
Mudhaf ilaihi yang berbentuk isim mu’rab harus selalu majrur. Contoh:
كِتَابُالْمُسْلِمِ كِتَابُالْمُسْلِمَيْنِ كِتَابُالْمُسْلِمِيْنَ
2.
Mabni
Mudhaf ilaihi yang berbentuk isim mabni tidak mengalami perubahan harokat
akhir (sesuai bentuk aslinya).
Contoh:
كِتَابُكَ (Kitabmu – laki-laki) كِتَابُكِ (Kitabmu – wanita)
|
Syarat-Syarat Idhofah
|
شُرُوْطُالإِضَافَةِ
|
Syarat-syarat idhofah ada 3:
1.
Mudhaf
tidak boleh ditanwin. Contoh:
حَقِيْبِةٌ = Mudhaf
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi
Susunan idhofahnya adalah,
حَقِيْبَةُمُحَمَّدٍ
(Tas Muhammad)
جَوَّالٌ = Mudhaf
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi
Susunan idhofahnya adalah:
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi
Susunan idhofahnya adalah:
جَوَّالُمُحَمَّدٍ (Handphone
Muhammad)
2.
Membuang nun mutsanna atau jama’ pada Mudhaf.
Contoh:
|
كِتَابَانِ = Mudhaf
|
مُحَمَّدٌ = Mudhaf ilaihi
|
||
|
Susunan idhofahnya,
|
كِتَابَامُحَمَّدٍ (Kitab
Muhammad)
|
||
|
مُدَرِّسُوْنَ = Mudhaf
|
مَعْهَدٌ = Mudhaf ilaihi
|
||
|
Susunan idhofahnya
|
(Para pengajar ma’had)
|
مُدَرِّسُوْمَعْهَدٍ
|
|
3.
Membuang alif lam dari Mudhaf
Contoh:
|
Mudhaf
|
Mudhaf ilaihi
|
Susunan idhofahnya
|
|
الرَّسُوْلُ
|
اللهُ
|
رَسُوْلُاللهِ
|
|
البَابُ
|
الْمَسْجِدُ
|
بَابُالْمَسْجِدِ
|
Faidah Idhofah
Faidah:
1.
Secara umum, kandungan makna idhofah mempunyai tiga
arti:
a.
Bermakna مِنْ (dari)
|
Contoh:
|
(Cincin besi)
|
خَاتَمُحَدِيْدٍ
|
|
Makna:
|
(Cincin dari besi)
|
خَاتَمٌمِنْحَدِيْدٍ
|
b.
Bermakna لِ (milik)
|
Contoh:
|
(Rumah Ali)
|
بَيْتُعَلِيٍّ
|
|
Makna:
|
(Rumah milik Ali)
|
بَيْتٌلِعَلِيٍّ
|
c.
Bermakna فِي (di dalam)
|
Contoh:
|
(Azab Kubur)
|
عَذَابُالقَبْرِ
|
|
Makna:
|
(Azab di dalam kubur)
|
عَذَابٌفِيالقَبْرِ
|
2.
Apabila Mudhaf berupa isim yang berakhiran dengan
alif, dan Mudhaf ilaihi berupa ya’ mutakallim, maka ya’ ditulis dengan
harakat fathah
Contoh:
يَدَايَ (Kedua tanganku)
Berasal dari يَدَانِ sebagai Mudhaf, nunnya dibuang
sehingga bentuknya menjadi يَدَا. Mengingat يَدَا berakhiran alif, maka ketika diidhofahkan
kepada ya’ mutakallim menjadi يَدَايَ .
هُدَايَ (Petunjukku) berasal dari اَلْهُدَى dan ya’ mutakallim (ي)
سِوَايَ (Selainku) berasal dari سِوَى dan ya’ mutakallim (ي)
هُدَايَ (Petunjukku) berasal dari اَلْهُدَى dan ya’ mutakallim (ي)
سِوَايَ (Selainku) berasal dari سِوَى dan ya’ mutakallim (ي)
3.
Apabila Mudhaf berupa isim yang berakhiran dengan ya’
dan Mudhaf ilaihi berupa ya’ mutakallim, maka ya’ ditulis dengan fathah
yang ditasdid.
Contoh:
|
(Para pengajarku)
|
مُدَرِّسِيَّ
|
Berasal dari
|
مُدَرِّسِيْنَ
|
danya’ mutakallim (ي)
|
|
(Pengacaraku)
|
مُحَامِيَّ
|
Berasal dari
|
اَلْمُحَامِي
|
dan ya’mutakallim (ي)
|
B.
Pengertian
SHIFAT ( صِفَة ) - MAUSHUF ( مَوْصُوْف )
Sifat ( الصفة ) ialah kata yang menjelaskan sifat atau
keadaan kata benda sebelumnya. Dan kata benda sebelumnya itulah yang disebut
dengan al-mausuf ( الموصوف ).[4]
Contoh : الطالب الجديد . Kata الطالب
adalah mausuf, sedangkan kata الجديد adalah siifat.
|
بَيْتٌ
جَدِيْدٌ
|
= (sebuah)
rumah baru
|
|
اَلْبَيْتُ
الْجَدِيْدُ
|
= rumah yang
baru
|
|
بَيْتٌ
كَبِيْرٌ وَاسِعٌ
|
= (sebuah)
rumah besar lagi luas
|
|
اَلْبَيْتُ
الْكَبِيْرُ الْوَاسِعُ
|
= rumah yang
besar lagi luas
|
Dengan melihat contoh di atas, dapat dipahami bahwa al-sifat wa
al-mausuf adalah susunan kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih,Bila rangkaian
dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya
dalam keadaan Ma'rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf
(yang disifati) sedang yang di belakang adalah Shifat.Jika
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antara kedua kata tersebut terdapat
pengertian “yang”.[5]
Untuk lebih jelasnya susunan kalimat
seperti yang disebutkan di atas, berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh :
1.
Mahasiswa
baru = mahasiswa yang baru ( طالب جديد = الطالب الجديد );
2.
Mahasiswi
cantik = mahasiswi yang cantik ( طالبة
جميلة = الطالبة
الجميلة );
3.
Guru
mulia = guru yang mulia ( استاذ كريم = الاستاذ الكريم );
4.
Pegawai
rajin = pegawai yang rajin ( موظف مجتهد = الموظف المجتهد ).
Istilah lain dari al-sifat wa al-mausuf adalah
al-na’at wa al-man’ut
(النعت والمنعوت ). Meskipun istilahnya berbeda, tetapi
oprasionalnya sama. Tentang al-na’at, ulama membaginya atas dua bagian,
yaitu :
Al-na’at al-haqiqi(النعت الحقيقى) dan Al-na’at al-sababi ( النعت السببى).
Al-na’at yang disebutkan
pertama ialah sifat yang menjelaskan keadaan yang disifatinya, contoh : هو ولد نشيط (dia
anak yang rajin). Adapun al-na’at yang disebutkan kedua ialah sifat yang
menjelaskan keadaan kata lain yang ada hubungannya dengan yang disifatinya,
contoh : هو ولد نشيط والده (dia,
anak yang rajin ayahnya).[6]
Lafazh-lafazh yang Dijadikan Sifat.
Menurut Fuad Ni’mah, sifat (na’at) dapat dibentuk dari tiga
hal, yaitu :
1.
Isim
¨zhahir, seperti kata عظيمة .
Contohnya : القاهرة مدينة عظيمة .
2.
Syibh
al-jumlah, baik dalam bentuk zharaf maupun jar wa majrur.
-
Dalam
bentuk zharaf, seperti kata فوق .
Contohnya :
للحق صوت فوق كل صوت ;
-
Dalam
bentuk jar wa majrur, seperti kata من .
Contohnya :
نذاع الحان من ورائع النغم .
3.
Jumlah
ismiyah atau jumlah fi’liyah.
-
Dalam bentuk
jumlah ismiyah. Contohnya
: مضى يوم برده قارص . Kalimat برده قارص adalah
sifat dari kata يوم .
-
Dalam
bentuk jumlah fi’liyah. Contohnya : هذا
عمل يفيد . Kata يفيد
adalah sifat dari kata عمـل .[7]
Ahmar Thib Raya dan Musda Mulia dalam bukunya menyatakan bahwa
lafal atau isim yang bisadijadikan sifat ialah isim yang bisa
juga dijadikan khabar nubtada’, yaitu :
1.
Al-sifat
al-musyabbahah. Kata sifat dalam katagori ini
meliputi berbagai timbangan, seperti : فعيل , افعل , اسم الفاعل, اسم المفعول, الاسم بياء النسبة . Untuk
lebih jelasnya berikut ini akan dikemukakan contoh-contohnya :
- Dalam timbangan فعيل seperti : ضعيف, سمين, كريم ;
- Dalam timbangan افعل seperti : ابيض, اسود, اصفر ;
- Dalam timbangan اسم الفاعل seperti : القائم, النائم, الحاضر ;
- Dalam timbangan اسم المفعول seperti : المكتوب, المقروء, المشروب ;
- Dalam timbangan الاسم بياء النسبة seperti : عربي, مصري, اسلامي .
2.
Isim
‘alam. Contoh : - محمد المصري ;
Ketentuan Khusus dalam al-sifat wa al-Mausuf
Terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menyusun
kalimat al-siifat wa al-mausuf. Ketentuan yang dimaksud, meliputi 11
hal, yaitu:
1.
Apabila
yang disifatinya musakkar, maka sifatnya juga harus musakkar. Contoh
: حضر
الطالب الجديد .
2.
Apabila
yang disifatinya muannas, maka sifatnya juga harus muannas. Contoh
: حضرت
الاستاذة الكريمة .
3.
Apabila
yang disifatinya nakirah, maka sifatnya juga harus nakirah. Contoh
: -
حضر طالب جديد ;
-
حضرت
طالبة جديدة .
4.
Apabila
yang disifatinya ma’rifah, maka sifatnya juga harus ma’rifah. Contoh
: -
جاء الاستاذ الكريم ;
-
جاءت
الاستاذة الكريمة .
5.
Apabila
yang disifatinya tunggal (mufrad), maka sifatnya juga harus tunggal.
Contoh : - دخل
الرجل السمين ;
-
دخلت المرأة السمينة .
6. Apabila yang disifatinya musanna, maka sifatnya juga
harus musanna. Contoh : - دخل
العميدان الكريمان ;
-
دخلت
العميدتان الكريمتان .
7.
Apabila
yang disifatinya jamak berakal, maka sifatnya juga harus jamak. Contoh: - جاء المديرون الكرام ;
-
جاءت
المديرات الكريمات .
8.
Apabila
yang disifatinya jamak tidak berakal, maka sifatnya harus tunggal muannas.
Contoh : - شربت الجواميس الكبيرة ;
- ضاعت الكتب الجديدة .
9. Apabila yang disifatinya marfu’, maka sifatnya juga
harus marfu’. Contoh : - الموظف المجتهد نشيط ;
-
حضرت
الموظفة النشيطة .
10. Apabila yang disifatinya mansub, maka sifatnya juga harus mansub.
Contoh
: -
شربت القهوة الساخنة ;
-
تلقيت
الهدية الثمينة .
11. Apabila yang disifatinya majrur, maka sifatnya juga harus majrur.
Contoh
: -
دخلنا على العميد الكريم ;
Kedudukan al-Mausuf dan I’rab siifat-nya
Pada pembahasan berikut ini akan dijelaskan kedudukan mausuf dalam
susunan kalimat, yang mana i’rab sifatnya mengikuti mausuf-nya.
Dalam beberapa keadaan, hubungan antara mausuf dengan sifatnya tetap
terpelihara, misalnya :
1.
Sifat
pada al-mubtada’. Dalam hal ini
kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya, yaitu marfu’. Contoh :
- الطالب
الجديد حضر ;
- الطالبة
الجديدة حضرت .
2.
Sifat
pada al-khabar. Kedudukan sifat dengan mausuf-nya sama seperti di
atas, yaitu marfu’. Contoh : - هذا كتاب جديد ;
-هذه كتب جديدة .
3.
Sifat
pada al-fa’il. Sebagaimana halnya dengan al-mubtada’ dan al-khabar,
sifat al-fa’il juga mengikuti mausuf-nya dalam bentuk marfu’.
Contoh
: - حضر
الاستاذ الكريم ;
- حضرة
الاستاذة الكريمة .
4.
Sifat
pada al-maf’ul bih. Dalam hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya,
yaitu mansub.
Contoh
: -
ساعدت الرجل الضعيف ;
- ساعدت
الفقيرة الضعيفة .
5.
Sifat
pada isim majrur. Dalam hal ini kedudukan sifat mengikuti mausuf-nya,
yaitu majrur. Contoh : - نظرت
الى العامل القوى ;
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sebagaimana
halnya dengan bahasa-bahasa lainnya, bahasa Arab mempunyai kaidah atau tata
bahasa tersendiri. Dalam kaidah
tersebut, dikenal bermacam-macam isim, dan di antaranya adalah
mudhaf-mudaf ilaihi dan siifat-mausuf.
Mudhaf-mudhaf ilaihi atau juga
sering diknal dengan idhofah merupakan Rangkaian dua buah Isim atau lebih, dimana satu
kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin) dinamakan
Mudhaf sedang kata yang paling belakang adalah Ma'rifah dinamakan
Mudhaf Ilaih.
Idhofah
memiliki syarat yakni
mudhaf tidak boleh bertanwin, membuang nun mutsanna dan jamak serta
membuang alif lam pada mudhaf. Selain dari pada itu juga terdapat faidah
tertentu.
Al-siifat wa
al-mausuf atau istilah lainnya al-na’at wa al-man’ut adalah susunan
kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih, yang menunjukkan kepada kata
benda, dan kata benda tersebut diikuti kata sifat. Jika kalimat tersebut
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antara kedua kata dimaksud terdapat
kata sisipan “yang”.
Lafal-lafal
yang dapat dijadikan kata sifat (menyifati suatu kata benda) ialah : isim
zhahir, Syibh al-jumlah, jumlah ismiyah, jumlah fi’liyah, siifat
al-musyabbahah, dan isim ‘alam.
Pada umumnya,
kedudukan kata sifat dalam susunan kalimat al-siifat wa al-mausuf, selalu
mengikuti mausuf-nya. Misalnya, jika mausuf-nya musakkar, maka
sifatnya juga musakkar. Sebaliknya, jika mausuf-nya muannas, maka
sifatnya juga muannas. Demikian pula apabila mausuf-nya nakirah
atau ma’rifah, maka sifatnya juga nakirah atau ma’rifah. Ketentuan
ini berlaku pula dalam susunan kalimat dalam bentuk tunggal (mufrad), musanna
atau jamak. Terjadi pengecualian dalam susunan kalimat yang mausuf-nya
jamak tidak berakal, maka dalam hal ini sifatnya harus mufrad muannas.
B.
Rekomendasi
Penulis merekomndasikan agar para
pembaca yang budiman senantiasa menambah hirarki keilmuan terutama bahasa,
karena bahasa merupakan dasar untuk berkomuikasi, termasuk antara lain adalah
bahasa Arab yang juga merupakan bahasa Alquran, sehingga dengan adanya
pemahaman tentang bahasa Arab yang tentunya akan menjadi motivasi bagi semua
kalangan untuk terus membaca Alquran.
Alquran tidak akan menjadi penghias
lemari ataupun dinding di setiap rumah orang-orang muslim, yang nampak elok
dengan keindahannya namun tak perna tersentuh dan dibaca oleh pemiliknya.
Seolah hanya menjadi bahan seremonial dan pelengkap yang menandakan bahwa
pemilik rumah baragama, padahal kedudukan Alquran sebagai petunjuk tidak agi
mnempati posisinya, melainkan hanya menjadi perhiasan belaka.
Demikian rekomendasi penulis semoga
makalah ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman terkhusus bagi penulis,
akhirnya kita melangkah bersama dan persembahkan yang terbaik untuk orang-orang
yang menyayangi, mengenal dan senantiasa mengiringi lankah ini.
KEPUSTAKAAN
Abd al-Hamid, Muhammad Muhy al-Din.
Al-Tuhfat al-Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajrmiyyah. Bairut,
Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth.
Fahmi, A.H.Akrom. Ilmu
Nahwu dan Sharaf (Tata Bahasa Arab) Praktis dan Aplikatif. Cet.I,
Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 1995.
Muhammad, Abu Bakar. Tata Bahasa Bahasa Arab : Bagian Fi’il dan
Isim – Isim yang Marfu’. Surabaya, al-Ikhas, tth.
Ni’mah, Fuad. Mulkhasi Qawaid al-Lugah al-‘Arabiyyah. Cet.X,
Damsyiq, Dar al-Hikmah li al-°aba’ah wa al-Nasyr, tth.
Raya, Ahmad Thib dan Musda Mulia. Pangkal Penguasaan Bahasa
Arab. Jakarta, PT.Al-Quswa, tth.
Samsuri. Analisis
Bahasa. Cet.VIII, Jakarta, Erlangga, 1991.
Al-°an¯awi,
Muhammad. Nasy`ah al-Nahwi. Cet.V, Mesir, Dar al-Manar, 1987.
[1]Lebih lanjut
Samsuri mengatakan bahwa bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian
seseorang. Dari bahasa seseorang dapat ditangkap motif keinginannya,
pergaulannya, latar belakang pendidikannya, dan sebagainya. Baca bukunya, Analisis
Bahasa, (cet.VIII; Jakarta : Erlangga, 1991), h. 4-5.
[2]Moh. Saifullah
Al Aziz senali, Metode Pmblajaran Ilmu Nahwu,(Surabaya: Terbit Terang,
2005) h. 16
[3] Hifni Bek
Dayyab, dkk. Qawa’idul ‘I-Lughati ‘I- Arabiyah, terj. Chatibul Umam dkk,
Kaidah Tata Bahasa Arab,(Cet. XI: Jakarta ; Darul Ulum Press, 2010),h.
293
[4]Ahmad Thib Raya
dan Musda Mulia, Pangkal Penguasaan Bahasa Arab, (Jakarta : PT.Al-Quswa,
tth.), Buku II, h. 64.
[6]Abu Bakar
Muhammad, Tata Bahasa Bahasa Arab : Bagian Fi’il dan Isim – Isim yang Marfu’,
(Surabaya : al-Ikhas, tth.), Jilid I, h. 250. Pengertian yang sama terdapat
juga dalam Muhammad Muhy al-Din ‘Abd al-Hamid, al-Tuhfat al-Saniyyah bi
Syarh al-Muqaddimah al-Ajrmiyyah, (Bairut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
tth.), h. 122-123.
[7]Keterangan lebih
lanjut, baca Fuad Ni’mah, Mulkha¡ Qawaid al-Lugah al-‘Arabiyyah, (cet.IX;
Damsyiq : Dar al-Hikmah li al-°aba’ah wa al-Nasyr, tth.), h. 52-53.
[8]Lihat Ahmad
Thib Raya dan Musda Mulia,h. 78-81.
[9]Lihat Ahmad
Thib Raya dan Musda Mulia, h. 66-70. Juga Muhammad Muhy al-Din ‘Abd al-Hamid,
h. 123-1234.
[10]Lihat Ahmad
Thib Raya dan Musda Mulia, h. 71-75.
Terima kasih atas sharing ilmunya. Sangat detil dan lengkap serta mudah difahami susunannya. Semoga ilmunya berkah.
BalasHapus