BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa Merupakan alat komunikasi dan sarana yang sangat
urgen dalam pengembangan kemampuan intelektual. Dan memahami ajaran Islam, yang
bersumber dari al-Qur’an dan hadis, penguasaan bahasa sangat diperlukan,
terutama Bahasa Aarab. Karena al-Qur’an dan hadis diturunkan dalam bentuk Berbahasa Arab,
Demikian pula dengan berbagai karya ulama-ulama klasik ditulis dalam Bahasa
Arab.
Bahasa
Arab tidak sekedar bahasa al-Qu’an dan Hadis, namun telah menjadi Bahasa resmi
internasional yang digunakan oleh lebih dari 20 Negara.[1]Untuk
itu, dalam penguasan Bahasa Arab ini diperlukan pengetahuan mengenai berbagai
hal sebagai penunjang, seperti pengetahuan tentang انّ
و أخواتها sebagai salah
satu bagian penting yang dijumpai dalam al-Qur’an dan Hadis begitupun dalam
literatur klasik karya ulama-ulama terdahulu yang berbahasa Arab.
Dengan demikian, dalam makalah ini, akan
membahas seputar انّ و أخواتها yang menguraikan
mengenai pengertian, isimإنّ, serta pembahasan
mengenai maftuhah danmaksurah.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengertian ان و أخواتها
2. Bagaimanakah cara membentukIsim ان و أخواتها
3. Bagaimanakah fungsi ان و أخواتها
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertianان و أخواتها
ان و أخواته Adalah huruf-huruf yang masuk pada jumlah isimyyah,
huruf-huruf tersebut menasab isim yang kemudian disebut isimnya, dan merafa,
khabar yang disebut khabarnya.[2] Dari pengertian inilah menurut Imam Bawani
dapat dikatakan bahwa dapat mempengaruhi
keadaan atau tata bunyi mubtada dan khabar.[3]
Kelompok kata yang termasuk dalamان و أخواته terdiri dari enam huruf
dan masing-masing huruf mempunyai arti terdiri ketika telah masuk dalam
kalimat. Huruf-huruf tersebut di antaranya adalah :
1. إنّ Artinya
: sesungguhnya,
2. أنّ
Artinya : sesungguhnya,
أنّ Danأنّkeduanya berfungsi sebagai huruf ta’kid ( التأكيد) yaitu untuk menguatkan atau meyakinkan,
dengan catatan bahwa أن bisa terletak di permulaan atau dipertengahan jumlah,
sedangkan أنّpasti terletak di pertengahan jumlah.
3. كأنّ Artinya :
seakan-akan. Berfungsi sebagai huruf tasybih (التشبيه ), yaitu untuk
menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.
4. لكنّ
Artinya : tetapi atau akan tetapi, لكنّ berfungsi sebagai huruf istidrak
(الإستدراك ), yaitu untuk
menyusulkan keterangan atau menyangkal pernyataan sebelumnya. Oleh karenanya,
pasti ada pernyataan atau jumlah sebelumnya.
5. لعلّ
Artinya : Semoga, muda-mudahan
atau agar.لعلّBerfungsi sebagai huruf tarajjy (التَّرَجِّى ), yaitu untuk
mengharapkan sesuatu mungkin atau mudah dicapai, atau mengharap terjadinya
sesuatu yang disukai atau tidak terjadinya sesuatu yang disukai.
ليت Artinya : mudah-mudahan
atau barang kali.Berfungsi sebagai huruf tamannya ( التَّمَنىَ), yaitu untuk
mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin tau sulit dicapai.[4]jadi dapat
dipahami bahwa, fungsi inna wa akhawatuha adalah : menasabkan mubtada
dan merafa’kan khabarnya.
istilah mubtada dan khabar yang didahului inna
wa akhawatuha adalah: mubtada disebut isim inna dan khabarnya disebut: khabar
inna. Penyebutan isim inna dan khabar inna selalu disesuaikan
dengan kelompok inna yang mendahului mubtada dan khabar adalah
saudara-saudaranya yang lain, seperti: لعل
(la’alla) maka penyebutanya menjadi isim la’alla dan khabar
la’alla.[5]
B. Inna dan saudara-saudaranya
a). ان(inna)
artinya : sesungguhnya
Yaitu: huruf taukid(penguatan). yang bekerja menasabkan isim
dan merafa’kan khabar.
b). ان(anna)
artinya: bahwa.
Juga disebut huruf taukid (penguatan) yang juga berfungsi menasabkan
isim dan merafa’kan khabar.
c). لعل (la’alla)
artinya: semoga, barangkali, mudah-mudahan.
Disebut huruf tarjiy
yaitu: mengharapkan sesuatu yang mungin terjadi.
d). ليت(laita)
artinya: seandainya, semoga, mudah-mudahan.
disebut huruf tamanny,
maksudnya adalah: mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi (mustahil).
e). كان(kaanna)
artinya: seolah-olah, seakan-akan, seperti, seumpama.
kaanna
disebut huruf tasybih (menyerupakan) maksudnya yaitu: menyamakan suatu
benda atau orang dengan sesuatu yang lain, yang sama karakter atrau sifatnya.
f). لكن(lakinna)
artinya: tetapi, namun, bagaimanapun
Disebut huruf istidrak (susulan)[6],
maksudnya adalah: kata yang menyusul kalimat sebelumnyadengan kalimat
sesudahnya.
contoh: Zaid seorang yang pemberani tapi ia bakhil
G). لا ( Laa) Laa adalah huruf, nafikan jenis
(harfun linafiyyil jinsi)
C. Fungsi (Pengaruh) dan Letaknya dalam Kalimat
Inna
dan kawan-kawannya, seperti halnya kana dan kawan-kawannya, masuk dalam kalimat yang terdiri atas mubtada’
dan khabar, maka isim kalimat yang dimasukinya inilah
yang disebut dengan isim-nya inna dan khabar kalimat
tersebut disebut dengan khabar inna.
Untuk lebih jelasnya, akan dikemukakan contoh sebagai berikut:
-
الله
عليم حكيم = ان الله عليم حكيم = Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana;
-
الرجال
اقوياء = ان الرجال اقوياء =
Laki-laki itu kuat;
-
محمد
رسول كريم = ان محمدا رسول كريم = Muhammad rasul yang mulia;
-
الامتحان
قريب = علمت ان الامتحان قريب =
Saya tahu bahwa ujian sudah dekat;
-
الكتاب استاذ =
كان الكتاب استاذ = Seakan-akan buku itu adalah guru;
-
العلم
نور = كان العلم نور =
Seakan-akan ilmu itu cahaya;
-
الفصل
قد يمة = الفصل قد يمة لكن المكا تب جد يدة = Kelas lama (tua), tetapi meja-meja baru;
-
الليل
طويل = ليت الليل طويل = Semoga malam menjadi panjang;
-
المميت
يعود = ليت المميت يعود = Semoga orang mati (bisa) kembali;
Pada contoh-contoh kalimat tersebut di atas, mulai dari pertama
sampai terakhir, semua tersusun dari pola kalimat mubtada’ dan khabar
dan keduanya dalam keadaan marfu’, namun setelah dimasuki salah satu di antara huruf inna dan
kawan-kawannya, maka kata yang menduduki posisi mubtada’, baris
terakhirnya berubah menjadi mansab, itulah dikatakan isim-nya inna dan kata yang
menduduki posisi khabar tetap marfu’ dan dikatakan khabar inna.
Inna dan
kawan-kawannya pada umumnya terletak di awal kalimat seperti yang tampak pada
contoh-contoh tersebut di atas, kecuali paada posisi-posisi tertentu dengan
alasan-alasan tertentu pula yang akan dibahas pada bab selanjutnya seperti anna
dan kaanna.[8]
Perhatikan
contoh pada table berikut ini dan
perhatikan pula perubahan baris pada kalimat berikut sebelum dan sesudah di
masuki kata inna
|
Sebelum dimasuki
اِنَّ
|
Sesudah dimasuki
إِنَّ
|
Keterangan
|
|
اَحْمَدُ اُسْتَاذٌ
Ahmad seorang guru
|
إنَّ اَحْمَدَ اُسْتــَاذٌ
Kata Ahmad barisnya berubah asalnya dhamah
menjadi fatah
|
اَحْمَدَ : isim inna
اُسْتَــاذٌ : khabar inna
|
|
مُحَمَّدٌ تِلْمِيـْذٌ
Muhammad seorang murid
|
إِنَّ مُحَمَّـدًا تِلْمِيذٌ
Kata Muhammad barisnya berubah asalnya dhamah menjadi
fatah
|
مُحَمَّدًا : Isim Inna
تِلْمِيْذٌ : khabar Inna
|
Sedangkan maknaان و
أخواتها
a. أَنَّ (Anna) memiliki makna (تَوْكِيْد) (menguatkan )
أَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
(Aku
bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad itu Utusan Alloh SWT)
b. لَكِنَّ (lakinna artinya tetapi
)
memiliki makna إِسْتِدْرَاك (merivisi / membetulkan
pembicaraan yang sudah di ucapkan)
c.
كَأَنَّ(kaanna artinya seakan-akan /
menyerupai) memiliki makna تَشْبِيْه(menyerupai)
d.
لَيْتَ
(laita artinya menginginkan)
memiliki makna تَمَـــنِّى
(menginginkan sesuatu tapi tidak mungkin tercapai)
e.
لَعَلَّ(la’alla artinya semoga / mudah-mudahan)
memiliki makna تَرَجِي
وتَوَقـــعِ (menginginkan /
mengharapkan sesuatu dan
masih mungkin untuk di dapatkan)
3. Contoh إِنَّ وَاَخْوَاتُهَا dalam al Quran
إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (البقرَة : 115)
اللهَ : isim inna
وَاسِعٌ
: khobar inaa
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (الشرح : 6
يُسْرًا
isim inna
مَعَ
العُسْرِ: khobar inna
Dalam ayat ini khobar inna di
dahulukan daripada isim inna
إِنَّا اِلَيْنَا اِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّا عَلَيْنَا
حِسَابَهُمْ (الغَاشِيَة :26-25)
اِيَابَهُمْ
: isim inna
اِلَيْنَا
: khobar inna
حِسَابَهُمْ
: isim inna
عَلَيْنَا
: khobar inna
Dalam dua ayat ini isim inna di
akhirkan sedangkan khobarnya di dahulukan [9]
D. Cara
Inna Wa Akhawatuha Menasabkan Isim
1. fathah
Fathah digunakan
sebagai penanda nasab untuk isim yang didahului innawaakhawatuha,
jika isim tersebut berbentuk mufrad dan jama’ taksir.
a). mufrad
baik itu mufrad muannas maupun mufrad
mudzakar.
contoh:
مسجد ان مسجد
atau contohnya dalam kalimat[10]
البيت
واسع
ان البيت واسع
Satu hal yang
harus di ingat bahwa khabar inna wa akhawatuha boleh terdiri dari jumlah ismiyah
ataupun fi’liyah
contoh: جملة اسمية
(jumlah ismiyah)
Sesunggunya
rasul itu berakhlak mulia كر يمان لرسواقلا.(1
ان الكتاب نفعه عظيم .(2
Sesungguhnya
tukang cukur itu mahir ان
الحلاق ماهر.(3
contoh: جملة فعلية
(jumlah fi’liyah)
ان الله يرزق من يشاء.(1
Sesungguhnya anak itu sedang belajar hadits
ان الولد يتعلم حديث.(2
b). jamak taksir
contoh:
اءمة
كان اءمة
2. kasrah
digunakan
untuk menasabkan isim yang didahului inna wa akhawatuha,
jika isim tersebut berbentuk jamak muannas salim
contoh:
مؤمنات
لعل مؤمنات
Contohlain:
التلميزات
مهحدبات
ان التلميزات مهحدبات
.(1
الممرضات
نشيطات
ان الممرضات نشيطات
.(2
المولدات
مخلصات
ان المولدات
مخلصات
.(3
3. ya
ya digunakan untuk menasabkan isim yang didahului inna wa
akhawatuha jika isim tersebut berbentuk mutsanna dan jamak
mudzakar salim.
1). contoh mutsanna
الموضعان
بعيدان ان
الموضعين
بعيدان
المدرستان
قريبتان ان
المدرستين قريبتان
Jadi ا
dan ن
setelah dimasuki huruf inna berobah menjadi ين
(ي
dan ن
2). contoh jamak mudzakar salim
المسامون
متقون
ان المسامين
متقون
المخلصون
مجتهدون ان
المخلصين مجتهدون
Dibawah ini beberapa contoh penggunaan saudara inna
dalam sebuah kalimat
ان.1
علمت ان
محمدا ناجع لعل .2
لعل زيدا قادم
3 ليت
ليت الشباب عاء
كان.4
كنزيدا اسد
Jadi, dari pengertian diatas diatas dapat
diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. tanda نصب
(nasab)
a). Untuk اسم مفرد
adalah: فته
b). Untuk مثنئ adalah:
ين
c). Untuk
جمع مدكر سالم
adalah: ين
d). Untuk جمع مؤنث سالم
adalah: كسرة
e). Untuk تكسرجمع
adalah: فته
2. Sedangkan
khabar inna wa akhawatuha dibaca رفع (rafa’) dan tanda rafa’nya adalah
a).Untuk اسم مفرد
adalah:dhammah
b).Untuk مثنئ
adalah: ان
c).Untuk جمع مؤنث سالم
adalah:ات
d).
Untuk جمع مدكر سالم
adalah:ون
C. Macam-macam Khabar Inna dan Kawan-kawannya
Khabar-nya sama dengan
macam khabar mubtada’, karena memang berasal dari padanya,
yaitu:
-
Khabar mufrad, yaitu khabar yang bukan terdiri dari jumlah atau syibhul
jumlah, walaupun
terdiri dari mutsanna atau jamak. Contoh:
1.
ان
الولد نا ئم = sesungguhnya anak itu tidur;
2.
ضننت
ان الولد ين نشيطا ن = saya kira kedua anak itu rajin;
3.
كان
الرجا ل فلا حون = orang-orang itu sekan-akan petani;
4.
لكن
المسلمين مخلصون = akan tetapi orang-orang Islam itu ikhlas;
5.
لعل
المسلموا غا لبون = semoga orang-orang Islam menang.
-
Khabar jumlah, yaitu:
1.
Jumlah fi’liyah,
yaitu jumlah fi’il dan fa’il contoh:
a. ان
الولد يتعلم = sungguh anak itu sedang belajar;
b. ان
معلمك يكرم = sungguh gurumu dimuliakan;
2.
Jumlah ismiyah,
yaitu jumlah mubtada’ dan khabar menjadi khabar, contoh: ان
ملا بسك لونه ابيض = sungguh pakaianmu putih.
-
Khabar syibhul jumlah,
yaitu khabar yang terdiri
dari kata jar majrur atau zaraf, contoh:
1.
ان
مفتحك فى جيبك = sungguh kuncimu di kantongmu;
2.
ان
كتابك امامك = sungguh bukumu di depanmu.
Mendahulukan khabar-nya dari pada
isim-nya:
Pada dasarnya isim-nya di dahulukan
dari pada khabar-nya, tetapi sering juga isim-nya di dahulukan,
bahkan wajib di dahulukan, diantaranya:
-
Apabila
didahului oleh khabar syibhul jumlah,
contoh:
1. ان
علينا للهدى = sungguh Kamilah yang memberi petunjuk (Al-Lail 12);
2. ان مع العسر يسرا
= sungguh beserta kesulitan itu ada kemudahan (Alam Nasyrah 6);
-
Apabila pada khabar-nya
terdapat dhamir yang kembali kepada isim-nya, contoh : ان
فى الدا ر صا حبها = sesungguhnya dalam rumah itu ada tuannya.[11]
E. Karakteristik Inna (إن)
Inna memiliki tiga keadaan:
1. wajib fathah
2. wajib kasrah
3. boleh kedua-duanya
Huruf inna (إن) wajib fathah ketika dikira-kirakan menjadi mashdar dalam berposisi sebagai marfu’nya fi’il (fail/naib al-fa’il), misal: يعجبني أنك قائم, atau sebagai manshubnya (maf’ul) fi’il, misal: عرفت أنك قائم, atau majrurnya huruf jar, misal: من أنك قائم عجبت.
Menurut Pengarang nadhom Alfiyah Syekh Ibnu Malik huruf inna (إن) wajib kasroh hamzahnya ketika berada pada enam tempat:
1) ketika berada di permulaan kalimat (ibtida’), contoh: إن زيدا قائم
2) Jatuh setelah shilah (isim maushul), contoh: جاء الذي إنه قائم
3) Jatuh sebagai jawaban dari qosam (sumpah) dan pada khobarnya terdapat huruf lam, contoh: والله إن زيدا لقائم
4) Jatuh setelah jumlah mahkiyyah (kalimat cerita) dengan lafad قول, contoh:
قلتُ إن زيدا قائم, akan tetapi jika bukan bermaksud untuk bercerita melainkan hanya sebatas dhonn (praduga) semata, maka hamzahnya wajib fathah آتقول أن زيدا قائم
5) Jatuh pada suatu jumlah yang berposisi sebagai hal (حال), contoh: زرته وإني ذو أمل
6) Jatuh setelah salah satu dari af’al al-qulub dan pada khobarnya terdapat huruf lam, contoh: علمت إن زيدا لقائم
Inna memiliki tiga keadaan:
1. wajib fathah
2. wajib kasrah
3. boleh kedua-duanya
Huruf inna (إن) wajib fathah ketika dikira-kirakan menjadi mashdar dalam berposisi sebagai marfu’nya fi’il (fail/naib al-fa’il), misal: يعجبني أنك قائم, atau sebagai manshubnya (maf’ul) fi’il, misal: عرفت أنك قائم, atau majrurnya huruf jar, misal: من أنك قائم عجبت.
Menurut Pengarang nadhom Alfiyah Syekh Ibnu Malik huruf inna (إن) wajib kasroh hamzahnya ketika berada pada enam tempat:
1) ketika berada di permulaan kalimat (ibtida’), contoh: إن زيدا قائم
2) Jatuh setelah shilah (isim maushul), contoh: جاء الذي إنه قائم
3) Jatuh sebagai jawaban dari qosam (sumpah) dan pada khobarnya terdapat huruf lam, contoh: والله إن زيدا لقائم
4) Jatuh setelah jumlah mahkiyyah (kalimat cerita) dengan lafad قول, contoh:
قلتُ إن زيدا قائم, akan tetapi jika bukan bermaksud untuk bercerita melainkan hanya sebatas dhonn (praduga) semata, maka hamzahnya wajib fathah آتقول أن زيدا قائم
5) Jatuh pada suatu jumlah yang berposisi sebagai hal (حال), contoh: زرته وإني ذو أمل
6) Jatuh setelah salah satu dari af’al al-qulub dan pada khobarnya terdapat huruf lam, contoh: علمت إن زيدا لقائم
Sebenarnya masih ada tiga tempat yang tidak beliau sebutkan di dalam nadhom Alfiyahnya, yaitu:
1) Ketika jatuh setelahلا الإستفتاحية أ,
contoh:
إنهم هم السفهاء ألا
2) Jatuh setelah حيث, contoh: اْجلس حيث إن زيدا جالس
3) Ketika menjadi khobar dari isim ‘ain ,
2) Jatuh setelah حيث, contoh: اْجلس حيث إن زيدا جالس
3) Ketika menjadi khobar dari isim ‘ain ,
contoh:إنه قائم زيد
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
انّ و أخواته Adalah huruf-huruf yang
masuk pada jumlah ismiyah, huruf-huruf tersebut menasab isim yang
kemudian disebut isimnya, dan merafa’ khabar yang disebut khabarnya.
Sehinggaانّ و أخواته dapat mempengaruhi keadaan atau tata bunyi mubtada’dan
khabar.
Fungsi dan pengaruhnya dalam kalimat yang
diikutinya, sebagaimana lazimnya, me-rafa’ isim-nya dan me-nasab
khabar-nya,
namun dalam posisi tertentu inna dan kawan-kawannya batal kerjanya atau
tidak berfungsi sebagaimana biasanya yakni apabila inna dan
kawan-kawannya bergandengan dengan ma al- zaidah.
Inna wa akhawatuha adalah: sekelompok harf
(kata depan) yang mendahului isim. Serta inna dan saudara-saudaranya
beramal(bekerja) menashabkan isim dan merafa’kan khabar
Berkut yang termasuk inna dan
saudara-saudaranya
a). ان(inna)
artinya : sesungguhnya
b). ان(anna)
artinya: bahwa.
c). لعل
(la’alla) artinya: semoga, barangkali, mudah-mudahan.
d). ليت
(laita) artinya: seandainya, semoga, mudah-mudahan.
e). كان(kaanna)
artinya: seolah-olah, seakan-akan, seperti, seumpama.
f). لكن
(lakinna) artinya: tetapi, namun, bagaimanapun
G).لا(
Laa) Laa adalah huruf, nafikan jenis (harfunlinafiyyiljinsi)
1. tanda نصب
(nasab)
a). Untuk اسم مفرد
adalah: فته
b). Untuk مثنئ adalah:
ين
c). Untuk جمع مدكر سالم
adalah: ين
d). Untuk جمع مؤنث سالم
adalah: كسرة
e). Untuk تكسرجمع
adalah: فته
2. Sedangkan khabar
inna wa akhawatuha dibaca رفع
(rafa’) dan tanda rafa’nya adalah
a).Untuk اسم مفرد
adalah:dhammah
b).Untuk مثنئ
adalah: ان
c).Untuk جمع مؤنث سالم
adalah:ات
d). Untuk جمع مدكر سالم
adalah:ون
Khabar inna dan kawan-kawannya ada tiga macam,
yaitu khabar mufrad, khabar jumlah dan syibhul jumlah.
B.
SARAN
Makalah yang disajikan masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran sangat saya harapkan untuk
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya: Beberapa Pikok Pikiran, Ujung
Pandang, 1997
Bawani Imam,Tata Bahasa arab tinggala permulaan, Surabaya, 1987
Departemen Agama al-Qur’an dan terjemahan
Muhammad, Abu Bakar. Tata Bahasa Arab,
Surabaya: Al-Ikhlas
____________________ Tata Bahasa
Arab II,Surabaya:
Al-Ikhlas
Thalib,
Muhammad. Sitem cepat Pengajaran Bahasa Arab, Bandung: Gemarisalah
Press, 2007
Thalib, Asri
Ibnu Tsani. thalib lughatuna nahw,Bekasi: Asri Publisher, 2009
Zakaria,Aceng.Ilmu Nahwu Praktis sistem
belajar 40 Jam,2004 M Ibn Azka Press; Garut
http//BAHASA ARAB UNTUK PEMULA INNA WAAKHWATUHA.htm
[1]Azhar Arsyad,
Bahasa Arab Dan Metode
Pengajarannya:Beberapa Pokok Pikiran, (Ujung Pandang:Fakultas Tarbiyah IAIN
Alauddin,1997),h.7.
[2]Abduh
al-Zajihi,Al-Tatbiqu al-Nahwy,(beirut:Dar al-Nahdah al-arabiiyah,1985
M/14o5 H) 12,h,Lhat Juga,Abu Bakar Muhammad, tata bahasa Arabn I,
(Al-ihklas,1982),h. 222.
[3]Imamam
Bawani,Tata Bahasa arab tinggala
permulaan, (surabayah: al-Ikhlas, 1987), h..246
[4] AH .Fahmi
akrom,Ilmu Nahwau Dan Sharaf 3 (Tata Bahasa Arab)Praktis dan Aplikatif,
Ed.I (Cet.II; Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,2002), h.180-181.
[6]Muhammad
thalib. Sitem cepat Pengajaran Bahasa Arab(Bandung: Gemarisalah Press,
2007) hal209
[9]BAHASA
ARAB UNTUK PEMULA INNA WAAKHWATUHA.htm
[10]Muhammad
thalib. hal209
Tidak ada komentar:
Posting Komentar