AKAN SELALU ADA JALAN BAGI YANG MAU BERBUAT

Safaruddinufe1121@gmail.com

TRANSLATE



JapaneseGermanEnglishFrenchSpainChinese SimplifiedArabicRussian

Translate

visitor

Kamis, 20 Februari 2014

INNA DAN SAUDARANYA



BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah

Bahasa Merupakan alat komunikasi dan sarana yang sangat urgen dalam pengembangan kemampuan intelektual. Dan memahami ajaran Islam, yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis, penguasaan bahasa sangat diperlukan, terutama Bahasa Aarab. Karena al-Qur’an dan hadis  diturunkan dalam bentuk Berbahasa Arab, Demikian pula dengan berbagai karya ulama-ulama klasik ditulis dalam Bahasa Arab.
            Bahasa Arab tidak sekedar bahasa al-Qu’an dan Hadis, namun telah menjadi Bahasa resmi internasional yang digunakan oleh lebih dari 20 Negara.[1]Untuk itu, dalam penguasan Bahasa Arab ini diperlukan pengetahuan mengenai berbagai hal sebagai penunjang, seperti pengetahuan tentang  انّ و أخواتها  sebagai salah satu bagian penting yang dijumpai dalam al-Qur’an dan Hadis begitupun dalam literatur klasik karya ulama-ulama terdahulu yang berbahasa Arab.
Dengan demikian, dalam makalah ini, akan membahas seputar انّ و أخواتها yang menguraikan mengenai pengertian, isimإنّ, serta pembahasan mengenai maftuhah danmaksurah.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah pengertian ان و أخواتها 
2.      Bagaimanakah cara membentukIsim ان و أخواتها 
3.      Bagaimanakah fungsi ان و أخواتها 










BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertianان و أخواتها                                                                  
ان و أخواته Adalah huruf-huruf yang masuk pada jumlah isimyyah, huruf-huruf tersebut menasab isim yang kemudian disebut isimnya, dan merafa, khabar yang disebut khabarnya.[2]  Dari pengertian inilah menurut Imam Bawani dapat dikatakan bahwa  dapat mempengaruhi keadaan atau tata bunyi mubtada dan khabar.[3]
Kelompok kata yang termasuk dalamان و أخواته terdiri dari enam huruf dan masing-masing huruf mempunyai arti terdiri ketika telah masuk dalam kalimat. Huruf-huruf tersebut di antaranya adalah :
1.      إنّ        Artinya  : sesungguhnya,
2.      أنّ      Artinya   :  sesungguhnya,
أنّ Danأنّkeduanya berfungsi sebagai huruf ta’kid ( التأكيد)   yaitu untuk menguatkan atau meyakinkan, dengan catatan bahwa أن bisa terletak di permulaan atau dipertengahan jumlah, sedangkan أنّpasti terletak di pertengahan jumlah.
3.      كأنّ Artinya  :  seakan-akan. Berfungsi sebagai huruf tasybih  (التشبيه ), yaitu untuk menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.
4.      لكنّ  Artinya  :  tetapi atau akan tetapi,  لكنّ berfungsi sebagai huruf istidrak
(الإستدراك ), yaitu untuk menyusulkan keterangan atau menyangkal pernyataan sebelumnya. Oleh karenanya, pasti ada pernyataan atau jumlah sebelumnya.
5.      لعلّ  Artinya :  Semoga, muda-mudahan atau agar.لعلّBerfungsi sebagai huruf tarajjy (التَّرَجِّى ), yaitu untuk mengharapkan sesuatu mungkin atau mudah dicapai, atau mengharap terjadinya sesuatu yang disukai atau tidak terjadinya sesuatu yang  disukai.
 ليت Artinya :  mudah-mudahan atau barang kali.Berfungsi sebagai huruf tamannya ( التَّمَنىَ), yaitu untuk mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin tau sulit dicapai.[4]jadi dapat dipahami bahwa, fungsi inna wa akhawatuha adalah : menasabkan mubtada dan merafa’kan khabarnya.
istilah mubtada dan khabar yang didahului inna wa akhawatuha adalah: mubtada disebut isim inna dan khabarnya disebut: khabar inna. Penyebutan isim inna dan khabar inna selalu disesuaikan dengan kelompok inna yang mendahului mubtada dan khabar adalah saudara-saudaranya yang lain, seperti: لعل  (la’alla) maka penyebutanya menjadi isim la’alla dan khabar la’alla.[5]



B. Inna dan saudara-saudaranya

a). ان(inna) artinya : sesungguhnya
Yaitu: huruf taukid(penguatan). yang bekerja menasabkan isim dan merafa’kan  khabar.
b). ان(anna) artinya: bahwa.
Juga disebut huruf taukid (penguatan) yang juga berfungsi menasabkan isim dan merafa’kan khabar.
c). لعل (la’alla) artinya: semoga, barangkali, mudah-mudahan.
                  Disebut huruf tarjiy yaitu: mengharapkan sesuatu yang mungin terjadi.
d). ليت(laita) artinya: seandainya, semoga, mudah-mudahan.
disebut huruf tamanny, maksudnya adalah: mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi (mustahil).
e). كان(kaanna) artinya: seolah-olah, seakan-akan, seperti, seumpama.
     kaanna disebut huruf tasybih (menyerupakan) maksudnya yaitu: menyamakan suatu benda atau orang dengan sesuatu yang lain, yang sama karakter atrau sifatnya.
   f). لكن(lakinna) artinya: tetapi, namun, bagaimanapun
                  Disebut huruf istidrak (susulan)[6], maksudnya adalah: kata yang menyusul kalimat sebelumnyadengan kalimat sesudahnya.
      contoh: Zaid seorang yang pemberani tapi ia bakhil
G). لا ( Laa) Laa adalah huruf, nafikan jenis (harfun linafiyyil jinsi)
C.     Fungsi (Pengaruh) dan Letaknya dalam Kalimat
           Inna dan kawan-kawannya, seperti halnya kana dan kawan-kawannya, masuk dalam kalimat yang terdiri atas mubtada’ dan khabar, maka isim kalimat yang dimasukinya inilah yang disebut dengan isim-nya inna dan khabar kalimat tersebut disebut dengan khabar inna.
Untuk lebih jelasnya, akan dikemukakan contoh sebagai berikut:
-          الله عليم  حكيم = ان الله عليم حكيم  = Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana;
-          الرجال اقوياء =  ان  الرجال اقوياء = Laki-laki itu kuat;
-          محمد رسول كريم = ان محمدا رسول كريم  = Muhammad rasul yang mulia;
-          الامتحان قريب = علمت ان الامتحان قريب   = Saya tahu bahwa ujian sudah dekat;
-          الكتاب  استاذ =  كان الكتاب استاذ  = Seakan-akan buku itu adalah guru;
-          العلم نور = كان العلم نور   = Seakan-akan ilmu itu cahaya;
-          الفصل قد يمة = الفصل قد يمة لكن المكا تب جد يدة  = Kelas lama (tua), tetapi meja-meja baru;
-          الليل طويل = ليت الليل طويل  = Semoga malam menjadi panjang;
-          المميت يعود = ليت المميت يعود  = Semoga orang mati (bisa) kembali;
-           اخوك حاضر = لعل اخاك حاضر   = Mudah-mudahan saudaramu hadir.[7]
Pada contoh-contoh kalimat tersebut di atas, mulai dari pertama sampai terakhir, semua tersusun dari pola kalimat mubtada’ dan khabar dan keduanya dalam keadaan marfu’, namun setelah dimasuki salah satu di antara huruf inna dan kawan-kawannya, maka kata yang menduduki posisi mubtada’, baris terakhirnya berubah menjadi mansab, itulah dikatakan isim-nya inna dan kata yang menduduki posisi khabar tetap marfudan dikatakan khabar inna.
Inna dan kawan-kawannya pada umumnya terletak di awal kalimat seperti yang tampak pada contoh-contoh tersebut di atas, kecuali paada posisi-posisi tertentu dengan alasan-alasan tertentu pula yang akan dibahas pada bab selanjutnya seperti anna dan kaanna.[8]
Perhatikan contoh pada table berikut  ini dan perhatikan pula perubahan baris pada kalimat berikut sebelum dan sesudah di masuki kata inna

Sebelum dimasuki
اِنَّ
Sesudah dimasuki
إِنَّ
Keterangan
اَحْمَدُ اُسْتَاذٌ
Ahmad seorang guru
إنَّ اَحْمَدَ اُسْتــَاذٌ
Kata Ahmad barisnya berubah asalnya dhamah menjadi fatah
اَحْمَدَ    : isim inna
اُسْتَــاذٌ  : khabar inna
مُحَمَّدٌ تِلْمِيـْذٌ
Muhammad seorang murid
إِنَّ مُحَمَّـدًا تِلْمِيذٌ
Kata Muhammad barisnya berubah asalnya dhamah menjadi fatah
مُحَمَّدًا  : Isim Inna
تِلْمِيْذٌ   : khabar Inna


Sedangkan maknaان و أخواتها
          a.     أَنَّ (Anna) memiliki makna  (تَوْكِيْد) (menguatkan )
 أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله        
(Aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad itu Utusan  Alloh SWT)
         b.    لَكِنَّ (lakinna artinya tetapi ) 
                   memiliki makna إِسْتِدْرَاك (merivisi / membetulkan pembicaraan yang sudah di ucapkan)
        c.             كَأَنَّ(kaanna artinya seakan-akan / menyerupai)  memiliki makna  تَشْبِيْه(menyerupai)
        d.    لَيْتَ  (laita artinya menginginkan) 
                   memiliki makna  تَمَـــنِّى (menginginkan sesuatu tapi tidak mungkin tercapai)
        e.     لَعَلَّ(la’alla artinya semoga / mudah-mudahan)
                memiliki makna تَرَجِي وتَوَقـــعِ  (menginginkan / mengharapkan sesuatu dan masih mungkin untuk di dapatkan)

3. Contoh إِنَّ وَاَخْوَاتُهَا   dalam al Quran
إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (البقرَة : 115)
  اللهَ    : isim inna
وَاسِعٌ : khobar inaa
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (الشرح : 6
يُسْرًا  isim inna
مَعَ العُسْرِ: khobar inna
Dalam ayat ini khobar inna di dahulukan daripada isim inna
إِنَّا اِلَيْنَا اِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّا عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (الغَاشِيَة :26-25)
اِيَابَهُمْ : isim inna
اِلَيْنَا  : khobar inna
حِسَابَهُمْ : isim inna
عَلَيْنَا : khobar inna
Dalam dua ayat ini isim inna di akhirkan sedangkan khobarnya di dahulukan [9]

D. Cara Inna Wa Akhawatuha Menasabkan Isim
1. fathah
Fathah digunakan sebagai penanda nasab untuk isim yang didahului innawaakhawatuha, jika isim tersebut berbentuk mufrad dan jama’ taksir.
a). mufrad
baik itu mufrad muannas maupun mufrad mudzakar.
contoh:
  مسجد                                  ان مسجد
atau contohnya dalam kalimat[10]
  البيت واسع               ان البيت واسع   
Satu hal yang harus di ingat bahwa khabar inna wa akhawatuha boleh terdiri dari jumlah ismiyah ataupun fi’liyah
contoh: جملة اسمية (jumlah ismiyah)

        Sesunggunya rasul itu berakhlak mulia       كر يمان لرسواقلا.(1 
                                                                                                                    ان الكتاب نفعه عظيم  .(2
                             Sesungguhnya tukang cukur itu mahir  ان الحلاق ماهر.(3
            contoh:  جملة فعلية  (jumlah fi’liyah)
  ان الله يرزق من يشاء.(1
                 Sesungguhnya anak itu sedang belajar hadits          ان الولد يتعلم حديث.(2

b). jamak taksir
 contoh:
   اءمة                         كان اءمة

2. kasrah
                  digunakan untuk menasabkan isim yang didahului inna wa akhawatuha, jika isim tersebut berbentuk jamak muannas salim
contoh:
   مؤمنات                            لعل مؤمنات


Contohlain:                                                                                                           
        التلميزات مهحدبات              ان التلميزات مهحدبات                                    .(1
 الممرضات نشيطات              ان الممرضات نشيطات                .(2

 المولدات مخلصات                ان المولدات مخلصات                         .(3

3. ya
      ya digunakan untuk menasabkan isim yang didahului inna wa akhawatuha jika isim tersebut berbentuk mutsanna dan jamak mudzakar salim.
      1). contoh mutsanna
 الموضعان بعيدان            ان الموضعين بعيدان                       
  المدرستان قريبتان            ان المدرستين قريبتان                
      Jadi ا dan ن setelah dimasuki huruf inna berobah menjadi ين (ي dan ن
2). contoh jamak mudzakar salim
  المسامون متقون             ان المسامين متقون            
  المخلصون مجتهدون            ان المخلصين مجتهدون      

Dibawah ini beberapa contoh penggunaan saudara inna dalam sebuah kalimat
  ان.1    
                                                                                      علمت ان محمدا ناجع       لعل .2   
      لعل زيدا قادم   
   3  ليت
       ليت الشباب عاء
            كان.4
     كنزيدا اسد
                                                                        
Jadi, dari pengertian diatas diatas dapat diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. tanda  نصب (nasab)
      a). Untuk  اسم مفرد  adalah: فته
      b). Untuk  مثنئ  adalah: ين
      c). Untuk   جمع مدكر سالم  adalah: ين
      d). Untuk جمع مؤنث سالم adalah: كسرة
      e). Untuk تكسرجمع adalah: فته
2. Sedangkan khabar inna wa akhawatuha dibaca  رفع (rafa’) dan tanda rafa’nya adalah
      a).Untuk  اسم مفرد     adalah:dhammah
      b).Untuk  مثنئ   adalah: ان
      c).Untuk  جمع مؤنث سالم   adalah:ات
      d). Untuk   جمع مدكر سالم      adalah:ون



C. Macam-macam Khabar Inna dan Kawan-kawannya
Khabar-nya sama dengan macam khabar mubtada’, karena memang berasal dari padanya, yaitu: 
-          Khabar mufrad, yaitu khabar yang bukan terdiri dari jumlah atau syibhul jumlah, walaupun terdiri dari mutsanna atau jamak. Contoh:
1.      ان الولد نا ئم  = sesungguhnya anak itu tidur;
2.      ضننت ان الولد ين نشيطا ن  = saya kira kedua anak itu rajin;
3.      كان الرجا ل فلا حون   = orang-orang itu sekan-akan petani;
4.      لكن المسلمين  مخلصون  = akan tetapi orang-orang Islam itu ikhlas;
5.      لعل المسلموا غا لبون  = semoga orang-orang Islam menang.
-          Khabar jumlah, yaitu:
1.      Jumlah fi’liyah, yaitu jumlah fi’il dan fa’il contoh:
a. ان الولد يتعلم   = sungguh anak itu sedang belajar;
b. ان معلمك يكرم  = sungguh gurumu dimuliakan;
2.      Jumlah ismiyah, yaitu jumlah mubtada’ dan khabar menjadi khabar, contoh: ان ملا بسك لونه  ابيض  = sungguh pakaianmu putih.
-          Khabar syibhul jumlah, yaitu khabar yang terdiri dari kata jar majrur atau zaraf, contoh:
1.      ان مفتحك فى جيبك  = sungguh kuncimu di kantongmu;
2.      ان كتابك امامك  = sungguh bukumu di depanmu.
Mendahulukan khabar-nya dari pada isim-nya:
Pada dasarnya isim-nya di dahulukan dari pada khabar-nya, tetapi sering juga isim-nya di dahulukan, bahkan wajib di dahulukan, diantaranya:
-          Apabila didahului oleh khabar syibhul jumlah, contoh:
1. ان علينا للهدى   = sungguh Kamilah yang memberi petunjuk (Al-Lail 12);
2. ان  مع العسر يسرا   = sungguh beserta kesulitan itu ada kemudahan (Alam Nasyrah 6);
-          Apabila pada khabar-nya terdapat dhamir yang kembali kepada isim-nya, contoh : ان فى  الدا ر صا حبها  = sesungguhnya dalam rumah itu ada tuannya.[11]    

E. Karakteristik Inna (إن)
Inna memiliki tiga keadaan:
   1. wajib fathah
   2. wajib kasrah
   3. boleh kedua-duanya
Huruf inna
(إن) wajib fathah ketika dikira-kirakan menjadi mashdar dalam berposisi sebagai marfu’nya fi’il (fail/naib al-fa’il), misal: يعجبني أنك قائم, atau sebagai manshubnya (maf’ul) fi’il, misal: عرفت أنك قائم, atau majrurnya huruf jar, misal: من أنك قائم عجبت.
Menurut Pengarang nadhom Alfiyah Syekh Ibnu Malik huruf inna
(إن) wajib kasroh hamzahnya ketika berada pada enam tempat:
1) ketika berada di permulaan kalimat (ibtida’), contoh:
إن زيدا قائم
2) Jatuh setelah shilah (isim maushul), contoh:
جاء الذي إنه قائم
3) Jatuh sebagai jawaban dari qosam (sumpah) dan pada khobarnya terdapat huruf lam, contoh:
والله إن زيدا لقائم
4) Jatuh setelah jumlah mahkiyyah (kalimat cerita) dengan lafad
قول, contoh:
قلتُ إن زيدا قائم, akan tetapi jika bukan bermaksud untuk bercerita melainkan hanya sebatas dhonn (praduga) semata, maka hamzahnya wajib fathah آتقول أن زيدا قائم
5) Jatuh pada suatu jumlah yang berposisi sebagai hal
(حال), contoh: زرته وإني ذو أمل
6) Jatuh setelah salah satu dari af’al al-qulub dan pada khobarnya terdapat huruf lam, contoh:
علمت إن زيدا لقائم

Sebenarnya masih ada tiga tempat yang tidak beliau sebutkan di dalam nadhom Alfiyahnya, yaitu:
1) Ketika jatuh setelah
لا الإستفتاحية أ,
          contoh: إنهم هم السفهاء ألا
2) Jatuh setelah
حيث, contoh: اْجلس حيث إن زيدا جالس
3) Ketika menjadi khobar dari isim ‘ain ,
contoh:إنه قائم زيد

















BAB  III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
انّ و أخواته Adalah huruf-huruf yang masuk pada jumlah ismiyah, huruf-huruf tersebut menasab isim yang kemudian disebut isimnya, dan merafa’ khabar yang disebut khabarnya. Sehinggaانّ و أخواته dapat mempengaruhi keadaan atau tata bunyi mubtada’dan khabar.
              Fungsi dan pengaruhnya dalam kalimat yang diikutinya, sebagaimana lazimnya, me-rafa’ isim-nya dan me-nasab khabar-nya, namun dalam posisi tertentu inna dan kawan-kawannya batal kerjanya atau tidak berfungsi sebagaimana biasanya yakni apabila inna dan kawan-kawannya bergandengan dengan ma al- zaidah.
              Inna wa akhawatuha adalah: sekelompok harf (kata depan) yang mendahului isim. Serta inna dan saudara-saudaranya beramal(bekerja) menashabkan isim dan merafa’kan khabar
Berkut yang termasuk inna dan saudara-saudaranya
a). ان(inna) artinya : sesungguhnya
b). ان(anna) artinya: bahwa.
c). لعل (la’alla) artinya: semoga, barangkali, mudah-mudahan.
d).  ليت (laita) artinya: seandainya, semoga, mudah-mudahan.
e). كان(kaanna) artinya: seolah-olah, seakan-akan, seperti, seumpama.
f). لكن (lakinna) artinya: tetapi, namun, bagaimanapun
      G).لا( Laa) Laa adalah huruf, nafikan jenis (harfunlinafiyyiljinsi)
1. tanda  نصب (nasab)
      a). Untuk  اسم مفرد  adalah: فته
      b). Untuk  مثنئ  adalah: ين
      c). Untuk   جمع مدكر سالم  adalah: ين
      d). Untuk جمع مؤنث سالم adalah: كسرة
      e). Untuk تكسرجمع adalah: فته
2. Sedangkan khabar inna wa akhawatuha dibaca  رفع (rafa’) dan tanda rafa’nya adalah
      a).Untuk  اسم مفرد     adalah:dhammah
      b).Untuk  مثنئ   adalah: ان
      c).Untuk  جمع مؤنث سالم   adalah:ات
      d). Untuk   جمع مدكر سالم      adalah:ون
               Khabar inna dan kawan-kawannya ada tiga macam, yaitu khabar mufrad, khabar jumlah dan syibhul jumlah.

B.  SARAN
Makalah yang disajikan masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran sangat saya harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.











DAFTAR PUSTAKA
Abduh al-Zajihi,Al-Tatbiqu al-Nahwy,, beirut:Dar al-Nahdah al-arabiiyah,1985
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya: Beberapa Pikok Pikiran, Ujung Pandang, 1997
Bawani Imam,Tata Bahasa arab tinggala permulaan, Surabaya, 1987
Departemen Agama al-Qur’an dan terjemahan
Muhammad, Abu Bakar. Tata Bahasa Arab, Surabaya: Al-Ikhlas
____________________ Tata Bahasa Arab II,Surabaya: Al-Ikhlas
Thalib, Muhammad. Sitem cepat Pengajaran Bahasa Arab, Bandung: Gemarisalah Press, 2007

Thalib, Asri Ibnu Tsani. thalib lughatuna nahw,Bekasi: Asri Publisher, 2009
Zakaria,Aceng.Ilmu Nahwu Praktis sistem belajar 40 Jam,2004 M Ibn Azka Press; Garut
http//BAHASA ARAB UNTUK PEMULA  INNA WAAKHWATUHA.htm





























































[1]Azhar Arsyad, Bahasa  Arab Dan Metode Pengajarannya:Beberapa Pokok Pikiran, (Ujung Pandang:Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin,1997),h.7.






[2]Abduh al-Zajihi,Al-Tatbiqu al-Nahwy,(beirut:Dar al-Nahdah al-arabiiyah,1985 M/14o5 H) 12,h,Lhat Juga,Abu Bakar Muhammad, tata bahasa Arabn I, (Al-ihklas,1982),h. 222.
[3]Imamam Bawani,Tata Bahasa arab tinggala permulaan, (surabayah: al-Ikhlas, 1987), h..246
[4] AH .Fahmi akrom,Ilmu Nahwau Dan Sharaf 3 (Tata Bahasa Arab)Praktis dan Aplikatif, Ed.I (Cet.II; Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,2002), h.180-181.
[5]Abu Bakar Muhamad. TataBahasa Arab II,( Surabaya: Al-Ikhlas)hal 190.

[6]Muhammad thalib. Sitem cepat Pengajaran Bahasa Arab(Bandung: Gemarisalah Press, 2007) hal209
[7] Imam Badwi, Tata Bahasa Bahasa Arab (Cet. I; Surabaya: Al-Ikhlas, 1987), h. 246-247.
[8] Mustafa Amin, Nahwu al-Wadih, Juz I, (Mesir : Dar al-Maa’rif, 1966), h. 69-70. 
[9]BAHASA ARAB UNTUK PEMULA  INNA WAAKHWATUHA.htm
[10]Muhammad thalib. hal209
[11] Abu Bakar Muhammad, Tata Bahasa Bahasa Arab, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1982), h. 191-193.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar